LENSAINDONESIA.COM: Mengingatkan lirik lagu “Umar Bakrie” Iwan Fals. Ratusan guru honorer daerah (Honda) yang tergabung dalam Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) koordinator daerah (Korda) Ponorogo, Jawa Timur, menggelar aksi unjuk rasa damai didepan gedung olah raga (GOR) Singodimedjo, Jalan Pramuka Ponorogo.
Masa yang berdemo Minggu (4/5/14) ini, menuntut agar mereka yang sudah menjadi guru bertahun-tahun disekolah negeri, bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Baca juga: Banyak kepala sekolah buat SK palsu untuk guru honorer dan Ribuan guru honorer Bojonegoro hanya mendapat gaji 200 ribu rupiah
Para guru honorer sengaja memilih demo hari Minggu, karena mereka tidak ingin mengorbankan murid-muridnya tidak mendapatkan mata pelajaran jika demo dilakukan pada hari masuk sekolah.
Dengan berjalan kaki, berorasi dan membentangkan spanduk, diantaranya bertuliskan “Kami Honorer dengan Gaji Minim, namun senantiasa berupaya maksimum dalam mencerdaskan bangsa Indonesia “juga” angkat pegawai dan guru honorer menjadi PNS tanpa tes, terhitung masa tugas sampai tahun 2014 dan lain lain”.
Dalam orasinya, massa menyampaikan bahwa guru honorer mengajar siswa sama seperti guru PNS, namun mereka merasa tidak pernah didata, dan mereka merasa tidak dianggap sebagai bagian dari negeri ini.
“Kami selama ini tidak pernah didata, bahkan meteri pemberdayaan aparatur negara pun tidak menganggap kami,”ucap Kolid, korlap aksi.
Menurutnya selama ini gaji yang diterimanya sangatlah timpang dengan guru yang berstatus pegawai negeri apalagi bila dibandingkan dengan yang sudah bersertifikasi.
“Gaji guru PNS diatas Rp 6 juta per bulan, sedangkan kami hanya sepersepuluhnya bila dibandingkan dengan mereka, kami hanya diupah Rp 400 ribu per bulan, jelas sangat tidak adil,” kata Kolid koordinator lapangan (Korlap) aksi.
Atas kondisi tersebut, seribu enam ratus orang guru honorer mendesak agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan mereka dengan meningkatkan honor minimal sesuai degan UMK atau dengan diangkat menjadi PNS tanpa tes.
Sementara itu, Haryuni salah satu peserta aksi yang selama ini mengabdi di SMPN 5 Sawoo, menambahkan, bahwa dengan adanya aksi hari ini, mereka ingin menunjukan bahwa mereka ada dan masih eksis.
“Kita ingin menunjukan bahwa kita ada dimana-mana, masih banyak dan eksis,”ucapnya.
Dengan turunya aksi ini, Haryuni berharap, mereka bisa diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berdasarkan masa pengabdian, yang mana hal ini, menurutnya sesuai dengan PP no 56 tahun 2012.
“Kita berharap agar kita bisa diangkat sebgai PNS sesuai dengan PP nomer 56 tahun 2012, dengan berdasrkan urutan masa pengabdian,” tegasnya.
Selain itu aksi massa ini cukup menarik perhatian masyarakat, karena dilakukan bersamaan dengan peringatan hari pendidikan nasional yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo. Massa sengaja memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan eksistensi guru honorer.
“Ini memang sengaja dilakukan bersamaan, dengan acara dinas. Kami hari ini show off force, agar semua tahu, bahwa guru honorer itu ada ribuan orang, dan harus diperhatikan. Karena selama bertahun tahun, guru honorer di sekolah negeri itu ada dan bekerja, namun seolah tidak diakui keberadaannya. oleh pemerintah,” kata Hariyadi, salah satu peserta aksi yang lain. @arso
0 comments:
Post a Comment