Friday, April 3, 2015

Data satelit, hilangnya tutupan pohon Indonesia melambat, 1.6 jt Ha

Data satelit, hilangnya tutupan pohon Indonesia melambat, 1.6 jt Ha




LENSAINDONESIA.COM: Dari tahun 2011–2013, angka rata-rata kehilangan tutupan pohon Indonesia adalah 1.6 juta hektar per tahun. Ini mengindikasikan bahwa tren lonjakan angka kehilangan tutupan pohon di satu dasawarsa terakhir kemungkinan telah mendatar.


Demikian hasil pengolahan citra satelit resolusi tinggi yang dirilis Global Forest Watch, sebuah kemitraan yang dipimpin oleh World Resources Institute. Walaupun demikian, angka kehilangan tutupan pohon di Indonesia tetap tinggi jika dibandingan dengan negara lain. Indonesia menduduki peringkat kelima tertinggi di dunia dengan angka kehilangan tutupan pohon tahunan pada periode 2011–2013.


Data terbaru ini menunjukkan tanda-tanda cukup menggembirakan bagi hutan di Indonesia, tetapi dibutuhkan data dengan rentang waktu yang lebih lama dan riset tambahan untuk mengkonfirmasi tren tersebut.


“Data terbaru ini harus dapat terus mendorong momentum untuk memperbaiki sistem pengawasan dan pengelolaan hutan

di Indonesia,” kata Dr. Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia.


“Walaupun kita tersemangati oleh data terbaru ini, tetapi tetap ada perbaikan yang harus dilakukan seperti dalam bidang penegakan hukum dan transparansi data, khususnya dalam kerjasama antar lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mempromosikan pengembangan komoditas yang berkelanjutan, memperkuat moratorium kehutanan, dan meningkatkan kerjasama dalam pemetaan hutan.”


Data terbaru ini diperoleh dari University of Maryland dan Google yang merepresentasikan kumpulan data kehilangan

tutupan pohon global terbesar dan termutakhir. Dengan ditambahkannya data ini, saat ini Global Forest Watch dapat

menampilkan data kehilangan tutupan pohon dari tahun 2000–2013 dengan resolusi 30 meter.


Kehilangan tutupan pohon adalah ukuran dari total kehilangan pohon pada area tertentu yang tidak tergantung pada

penyebab kehilangan tutupan pohon tersebut. Hal ini mencakup deforestasi akibat ulah manusia, kebakaran hutan

yang terjadi secara alamiah maupun disengaja, pembukaan lahan untuk pengembangan agrikultur, pembalakan, perkebunan, serta kematian pohon yang disebabkan oleh penyakit dan penyebab alamiah lainnya.


“Informasi terbaru ini menuturkan cerita positif mengenai hutan di Indonesia,” ujar Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.


“Terlalu dini untuk mengatakan bahwa ini adalah tren yang pasti, dan saat ini Kementerian sedang meneliti dan

membandingkan angka yang dimiliki oleh Kementerian dengan temuan ini. Apabila benar, ini dapat menjadi indikator

kuat bahwa investasi signifikan yang dilakukan Indonesia untuk melindungi hutan terbayarkan. Kami akan mengambil

langkah-langkah tambahan untuk memastikan tren positif ini tetap berlanjut,” jelas Menteri.


Selain penurunan pada angka keseluruhan kehilangan tutupan pohon, angka kehilangan tutupan hutan primer—yakni

berupa hutan dewasa yang alami dan tidak pernah dibuka selama 30 tahun terkahir—juga menunjukan pelambatan

menjadi rata-rata kurang dari setengah juta hektar pertahun pada periode 2011–2013. Angka terendah dalam 10 tahun

terakhir.


Hutan primer di Indonesia adalah hutan dengan keanekaragaman hayati dan stok karbon paling kaya di dunia. Mitra-

mitra Global Forest Watch adalah kelompok pertama yang secara independen menghasilkan peta kehilangan tutupan

pohon pada hutan primer di Indonesia, yang memberikan cuplikan eksklusif mengenai perubahan tutupan hutan terkini

pada lokasi-lokasi penting tersebut.


“Penantian selama bertahun-tahun akhirnya terbayarkan,” ujar Agustin Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah,

Indonesia.


“Kami tidak dapat melakukan ini tanpa dukungan pemerintah yang menjadikan Kalimantan Tengah sebagai proyek

percontohan pertama REDD+ di Indonesia. Namun yang lebih penting lagi, kerjasama konstruktif antara lembaga

pemerintah, tokoh masyarakat, serta seluruh masyarakat Kalimantan Tengah adalah hal yang membuat upaya ini

berhasil. Saya berharap data terbaru dari University of Maryland ini dapat memotivasi pemerintah pusat dan

pemimpin daerah agar melanjutkan dan meningkatkan komitmennya untuk melindungi hutan dan membuka jalan menuju

Indonesia yang lebih lestari,” jelasnya.


Penurunan angka kehilangan tutupan hutan primer di Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan adanya pergeseran arah

karena riset sebelumnya yang dipublikasikan oleh University of Maryland dan WRI menunjukkan peningkatan pada angka kehilangan tutupan hutan primer pada tahun 2001 -2012.


Beberapa kemungkinan penyebab turunnya angka kehilangan tutupan hutan primer dan tutupan pohon secara umum dapat berupa moratorium atas izin konversi hutan, penurunan drastis pada harga-harga komoditas (khususnya kelapa sawit), komitmen perusahaan untuk menerapkan kebijakan nol-deforestasi (zero-deforestation), dan fakta bahwa hutan yang mudah untuk diakses sudah dibuka.


Namun, riset yang lebih mendalam perlu dilakukan untuk mengetahui pendorong utama perubahan pergeseran tren ini.


“Kita telah melihat betapa cepatnya Indonesia kehilangan tutupan hutan primernya selama 12 tahun terakhir, jadi

melambatnya angka kehilangan tutupan hutan primer menjadi kurang dari setengah juta hektar pada 2013 adalah

berita baik,” ujar Belinda Margono, peneliti di University of Maryland dan di Kementerian Lingkungan Hidup dan

Kehutanan. “Namun demikian, pembukaan hutan terdegradasi tetap merupakan masalah serius—98% dari angka kehilangan tutupan pohon terjadi di area yang sudah dibalak atau terdegradasi dengan berbagai cara. Hutan-hutan ini masih sangat penting karena menyimpan stok karbon yang signifikan, dan harus direstorasi serta dilestarikan untuk generasi yang akan datang.”


Secara global, dunia kehilangan lebih dari 18 juta hektar (69.500 miles persegi) tutupan pohon pada tahun 2013.

Data menunjukan bahwa Rusia, Kanada, dan Brazil (2.2 juta hektar), Amerika Serikat (1.7 juta hektar), dan

Indonesia (1.6 juta hektar) merupakan 5 peringkat teratas negara dengan angka rata-rata kehilangan tutupan pohon

pertahun tertinggi dari 2011–2013.


Hanya di tahun 2013, Indonesia mengalami angka kehilangan tutupan pohon terendah selama 10 tahun terakhir.


“Menghentikan kehilangan hutan yang kaya akan karbon dan lahan gambut adalah suatu keharusan apabila kita ingin

dapat menahan perubahan iklim”, kata Tine Sundtoft, Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia.


“Angka terbaru ini memberikan harapan bahwa langkah-langkah Indonesia untuk mengurangi angka deforestasi telah

menghasilkan dampak positif. Saya berharap dapat melihat langkah-langkah lanjutan dan pengurangan (angka tutupan

pohon) di bawah pemerintahan yang baru,” tambahnya.


Data kehilangan tutupan pohon terbaru ini dimungkinkan oleh dibukanya akses public secara bebas terhadap citra

satelit yang disediakan oleh U.S. Geological Survey Landsat Program bekerjasama dengan NASA. Data terbaru tahun

2013 dapat diakses secara publik melalui peta, visualisasi data, dan unduhan pada globalforestwatch.org.


Kehilangan tutupan pohon dapat dipantau melalui system peringatan near real-time seperti FORMA, Imazon SAD alerts, dan Terra-I alerts. @rilis


Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi http://ift.tt/1d4h8Zp


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment