LENSAINDONESIA.COM: Nada marah dan kritis mantan tim sukses Presiden Joko Widodo mulai mencuat. Salah satunya dari Akbar Faisal yang merupakan mantan Deputi Tim Transisi Jokowi-JK. Dia menulis surat terbuka yang ditujukan kepada satu dari empat Deputi Kepala Staf Kepesidenan Luhut Binsar Panjaitan, Yanuar Nugroho.
Berikut surat yang tersebar di media sosial.
Yth. Pak Yanuar Nugroho,
Baca juga: Luhut Panjaitan: Saya loyal pada presiden, tak bisa ditawar dan Status Luhut Panjaitan digugat ke Mahkamah Agung
Saya Akbar Faizal. Alumni IKIP Ujung pandang jurusan Sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI. Sekarang anggota DPR-RI. Saya ucapkan selamat atas jabatan mentereng sebagai deputinya Jendral Luhut. Pak Luhut dulu bagian dari tim kampanye Jokowi-JK dan juga Tim Transisi.
Ada beberapa peran pak Luhut yang cukup layak untuk dicatat dalam pemenangan Jokowi meski menurutku tdk sebesar peran Megawati yang memerintahkan PDIP hingga ke akar rumput untuk memenangkan Jokowi. Sesungguhnya Jokowi tak akan jadi Presiden jika PDIP atawa Mega tidak merekomendasikan Jokowi.
Hal yang sama juga terjadi pada Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Wiranto dan belakangan Sutiyoso. Selanjutnya bergabung berbagai relawan seperti Projo, Bara JP, Seknas, dll. Tak boleh dilupakan sayap2 partai pengusung seperti PIR Dr Nasdem dlm komando Martin Manurung dan Relawan Cik Ditiro dalam komando kawan2 PDIP.
Pasukan PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dengan kami di Timkamnas dalam komando Cahyo Kumolo dan Andi Wijayanto berkeliling Indonesia meneriakkan “Pilih Jokowi karena bla…bla…bla…”.
Tak ada anak Harvard di tim pemenangan kami. Yang agak jauh kuliahnya itu paling Eva K.Sundari yang pernah sekolah di Inggris entah dimana. Saya tak terlalu paham pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya yang org Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari oleh tim Prabowo sebagai katholik sejati atau pengkhianat bangsa dst.
Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI namun berkeliling dr kampung ke kampung sepanjang Jawa untuk meyakinkan Ibu-Ibu untuk memilih Jokowi dan berakibat dia disumpahi sebagai keturunan PKI di semua medsos. Ada pula yang bernama Teten Masduki yang setahu saya hanya alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan meyakinkan semua seniman-seniman bermartabat untuk mendukung Jokowi seperti Slank atau Iwan Fals atau Bimbo.
Jika Anda tahu tentang “Konser 2 Jari” yg menjadi pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik tentang besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan Prabowo di masa-masa krusial saat itu, itu adalah kerjaan Teten. Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya saya sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu dikantor pemenangan yang dibentuknya di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak org yg saya dengar sebagai “org LBP” entah dimana saja.
Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka dimana hadir para pensiunan Jendral yang –mohon maaf– masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan. Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang –cukup memarkir mobil didepan KPU dan seluruh data-data bisa tersedot. Kami di Jl.Subang 3A –itu markas utama pemenangan Jokowi Mas– terkagum-kagum membayangkan kehebatan teknologi pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Saya yang pernah menjadi wartawan senyum2 saja sebab sedikit paham soal IT.
Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah dana yang dibutuhkan untuk pengadaan teknologi sedot-menyedot tadi. Dalam hal massa, tercatat 2 kali LBP mengumpulkan masyarakat Batak di Medan dan Jakarta untuk mendukung Jokowi-JK. Mas Yanuar, saya merasa perlu menulis seperti ini sebab saya merasa kantor Anda terlalu jauh mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staf sebuah kantor Kastaf Presiden.
Sebenarnya saya tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard ini. Saya juga pernah kesana tapi sebagai turis. Otak saya memang tak akan mampu kuliah disana.
Lha wong saya orang desa. Bahasa Bugis saya juga jauh lebih lancar dari Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini mmebuat saya merasa “koq kalian menghina bangsamu sendiri? Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yang kabarnya akan kau katrol kualitasnya dengan cara memasukkan orang Harvard atau entah dari mana lagi di luar negeri sana? Mengapa kalian semakin jauh dari ‘kesepakatan awal kita di tim dulu untuk menghormati bangsamu sendiri’? Mengapa kalian makin kurang ajar saja?”
Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya “tak ada” dalam perencanaan kami di Tim Transisi dulu.
Sekadar menginfokan ke Anda Mas bahwa Tim Transisi itu dibentuk Pak Jokowi utk merancang pemerintahan yg akan dipimpinnya. Tp sy sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam-macam. Misal, akh…krn AF kecewa tidak jadi mentri dan lain-lain. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya pertanyakan. Termasuk surat presiden ke DPR tentang Budi Gunawan yang disusul kontroversi-kontroversi lainnya.
Kemana para pemikir Tata Negara disekitar Pak Jkw sekarang? Yang kudengar selanjutnya malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama Jasa Marga. Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham soal Tol karena setiap hari melalui macet –persoalan yang pak Jkw katakan dulu akan lebih mudah menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai Gubernur DKI– dari rumahnya di Buaran sana.
Mas Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan insyaallah punya peran (meski sangat kecil) terhadap kemenangan Jkw -JK, saya ingin kalian di istana fokus pada tugas yang lebih membumi.
Misalkan, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kebaikan tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atawa parpol pendukung. Ini juga satu soal sendiri karena terbaca dengan kuat kalau kalian di ring 1 presiden kini sukses melakukan Deparpolisasi) dan atau gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan-keputusan presiden/pemerintah. Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard.
Saya merasa mengenal beberapa orang di istana negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya. Saya hanya minta kalian disana berhenti melakukan hal yang tak perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana itu.
Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal Harvard ini. Tapi saya harus lakukan sebab menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal kita.
Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami dan terlibat didalamnya. Saya sekuat mungkin berusaha menghindari kalimat-kalimat keras untuk memahami apa yang kalian lakukan disana. Tp sepak terjang kantor Mas Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh. Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam memberikan masukan ke presiden.
Jangan racuni pikiran presiden yang polos ini dengan permainan yang dulu kami hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat langkah-langkah tim Prahara.
Terkhusus dengan Pak JK, saya minta kalian berikan rasa hormat. Tgl 9 Juli lalu, 63% penduduk Indonesia memilih Jokowi – JK dan bukan Jendral Luhut Binsar Pandjaitan apalagi Anda-Anda yg bergabung belakangan.
Selamat berakhir pekan.(ss)
0 comments:
Post a Comment