Friday, May 2, 2014

Ketua Dewan ICMI galau pelanggaran Pemilu merata

Ketua Dewan ICMI galau pelanggaran Pemilu merata




LENSAINDONESIA.COM: Ketua Dewan ICMI Pusat Mohammad Nasih berpandangan problem Pemilu yang baru berlangsung merupakan persolan serius. Pasalnya, ia mencermati pelanggaran Pemilu melibatkan seluruh elemen yang berkepentingan dalam Pemilu, baik Parpol, Caleg, penyelengara Pemilu, maupun masyarakat pemilih.


“Mayoritas Caleg menjadi kelompok Golput baru dengan arti baru dengan arti baru, golongan penerima uang tunai dan golongan penerima uang tunai,” tegas Mohammad Nasih di Gedung DPD RI Senayan, Jakarta, Jumat kemarin (2/5/14).


Baca juga: Warga Wonosari: Banyak yang beri uang, saya ambil, tetap pilih pilihan dan Pemilu libur, jutaan buruh relakan upah dipotong demi wakil rakyat


Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) ini menyiratkan cukup galau menilai penyebab utama praktek politik adalah, mayoritas caleg tidak memiliki wawasan yang cukup tentang politik. Sehingga pada saat mereka seharusnya melakukan kerja-kerja politik, justru melakukan kerja sosial.


“Pemilih belum cerdas. Mayoritas pemilih hanya mau memilih jika ada uang. Terutama dalam masyarakat pedesaan, mereka meniscayakan uang karena untuk meililih, mereka harus meninggalkan pekerjaan,” tandasnya.


Selain itu, kata dia, jika memang mereka meninggalkan pekerjaan, atau mereka meninggalkan pekerjaan harian, maka kehidupan esok harinya terancam, meninggalkan pekerjaan harian mereka, maka kehidupan merea esok harinya terancam, karena takut tidak bisa makan. Ini dialami oleh terutama kamum petani dan nelayan.


“Solusi, ada alokasi anggaran Pemilu yang memasukannya variable biaya bagi para pemilih uang. Datang ke TPS. WNI jangan hanya dilihat dalam konteks kota-kota di Jawa, tetapi juga daerah yang masih sangat tertinggal yang untuk datang ke TPS membutuhkan waktu yang lama dan juga biaya, misalnya Papua,” katanya, berpandangan leboh ekstrem. @endang


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment