LENSAINDONESIA.COM: Puluhan mahasiswa Indonesia se-Australia mendeklarasikan berdirinya Koalisi Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia se-Australia untuk Kebhinnekaan, di Murdoch University, Perth, Australia.
Koordinator Koalisi, Muhammad Faris Alfadh, mengatakan koalisi didirikan pada Minggu (4/5/14) ini sebagai bentuk penyikapan lebih tegas atas manifesto Partai Gerindra (mengusung Capres Prabowo) tentang agenda pemurnian agama.
Baca juga: RW mahasiswi korban penyair Sitok Srengenge di Polda kelabuhi wartawan dan Aksi tabur bunga, peringati tragedi Semanggi I
“Indonesia secara kultural dibangun oleh kebhinnekaan etnis, tradisi, dan keyakinan. Dalam satu agama yang sama saja selalu ada berbagai penafsiran dan cara pandang,” tegas Muhammad Faris dalam keterangan persnya kepada Licom, Selasa pagi (5/5/14). Intinya, Kebhinnekaan Indonesia yang dibangun dengan berdarah-darah jangan sampai dirusak hanya demi ambisi fasis.
Dengan realitas seperti itu, lanjut aktivis Muhammadiyah yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, tendensi fasisme yang muncul dalam manifesto Gerindra itu berpotensi membelah keragaman yang menjadi karakter utama bangsa kita.
Lebih lanjut, dia membeberkan, mahasiswa Asia Research Center Murdoch University ini menyatakan bahwa upaya memurnikan agama oleh negara sembari membungkam penafsiran di luar arus utama yang dicap sebagai sesat tidak akan bisa bertemu dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila Persatuan Indonesia.
Sekjen koalisi, Muhammad Ridha yang bertindak pembaca deklarasi, menambahkan, banyak yang menganggap Manifesto Gerindra itu sepele saja. Padahal, persoalan bisa menjadi dorongan terjadinya konflik horizontal di masyarakat, yang berbahaya bagi iklim demokrasi kita.
Konflik demikian bakal menjadi pembenaran bagi masuknya kekuatan militeristik, sebagai upaya menciptakan stabilitas semu.
“Semua itu pada akhirnya akan banyak mengorbankan prinsip demokratis yang sudah kita nikmati melalui perjuangan yang panjang,” imbuh mahasiswa Development Studies Murdoch University ini.
Dalam deklarasi itu, Koalisi menyerukan Pantura (Panca Tuntutan Rakyat), yang berisi lima butir sebagai berikut:
Pertama: Menolak keberadaan calon presiden yang diidentifikasi sebagai bagian dari kekuatan yang bertendensi fasisme.
Kedua: Menuntut para calon presiden yang berkontestasi dalam Pemilu 2014 agar menjunjung tinggi kebhinnekaan serta persatuan Indonesia berdasarkan keadilan sosial.
Ketiga: Menyerukan kepada para calon presiden agar menjunjung tinggi kebhinekaan dan hak azasi manusia sebagai agenda penting dalam pemerintahan.
Keempat: Menyerukan kepada seluruh masyarakat agar menyatukan diri untuk tidak mendukung kekuatan politik bertendensi fasis dan anti-kebhinnekaan.
Kelima: Menyerukan kepada segenap masyarakat agar mendorong sistem pemerintahan yang melindungi kebhinnekaan.
Penanda tanganan deklarasi selain dipelopori Faris dan Ridha, juga tercatat nama-nama lain seperti; Airlangga Pribadi (Murdoch University), Bharata Ibnu Reza (University of New South Wales), Henri Sitorus (Australian National University), Teuku Murdani (University of Canberra), Oki Rahadianto (University of Newcastle), Retno Agustin (University of Melbourne), Irwansyah Jemi (Murdoch University), Fina Itriyati (Australian National University), Darmanto Simaepa (Murdoch University), dan dari elemen nonmahasiswa antara lain Eko Waluyo (Indonesia Solidarity, Sidney) dan Iqbal Aji Daryono (Johanson Study Club, Perth).
Dukungan untuk Koalisi beserta tanda tangan terus mengalir dari mahasiswa dan masyarakat Indonesia di semua pelosok Australia. @pr_li
0 comments:
Post a Comment