LENSAINDONESIA.COM: Selang sehari setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengumumkan perang melawan organisasi militer ISIS, sejumlah pesawat militer AS telah meluncur ke kawasan utara Irak.
Kementerian Pertahanan AS mengatakan pesawat-pesawat tempur itu diperintahkan menuju Kota Erbil di Irak utara untuk bertempur bersama pasukan Kurdi melawan ISIS.
Baca juga: Tangkap anggota ISIS di Ngawi, densus 88 temukan senjata api dan Bendera ISIS berkibar dalam kantor Pemprov Jambi
Dalam pernyataan militer AS, pesawat-pesawat tipe F/A-18 dengan membawa ratusan kilogram bom terbang ke Irak utara. Dua pesawat F/A-18 telah menggempur konvoi ISIS serta merusak kendaraan dan persenjataan kelompok ekstremis pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi itu di Erbil.
Sedangkan ulama Syiah Irak, Ayatollah Ali Sistani, menyerukan seluruh warga Irak bersatu melawan ancaman ISIS. “Semua warga Irak harus bersatu dan terus berjuang menghadapi bahaya besar yang mengancam mereka hari ini dan yang akan datang,” kata Sistani.
Kembalinya pasukan tempur AS ke Irak setelah penarikan seluruh pasukannya pada 2011 untuk mengakhiri perang selama satu dekade di negara tersebut menuai kritik.
Mantan Duta Besar AS di Bagdad, Ryan Crocker, menuturkan pengiriman pasukan tempur ke Irak tidak akan mengubah konflik di negara itu. Ryan justru mempertanyakan strategi Obama yang 2,5 tahun lalu memutuskan menarik pasukannya dari Irak. “Saya tidak tahu apa strategi mereka.”
Namun kebijakan mengirimkan tentara Amerika Serikat ke Irak sudah bisa diprediksi sebelumnya setelah Edward Snowden (mantan anggota NSA) membocorkan rahasia bahwa ISIS adalah bentukan intelijen tiga negera Israel, Amerika Serikat dan Inggris. Tujuannya agar ISIS memperpanjang ketidakstabilan wilayah Timur Tengah sehingga otomatis Amerika Serikat dan sekutunya bisa terus berada di wilayah ini karena merasa punya `alasan`.
Sekedar diketahui, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ternyata adalah organisasi bentukan dari kerjasama intelijen tiga negara, yakni Amerika Serikat, Israel dan Inggris. Hal itu diungkapkan salah satu mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat, Edward Snowden.
Edward Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad-Israel bekerjasama menciptakan sebuah negara khalifah baru yang disebut dengan ISIS di Timur Tengah. Organisasi teroris itu menarik semua ekstremis di seluruh dunia dan menyebut ISIS adalah bagian strategi dengan nama ‘sarang lebah’.
Dokumen NSA yang dirilis Edward Snowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah itu dibuat justru untuk melindungi kepentingan zionis Israel dengan menciptakan slogan Islam. Berdasarkan dokumen ini, disebutkan satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi-Israel di Timur Tengah adalah menciptakan musuh di perbatasan. @andiono
0 comments:
Post a Comment