LENSAINDONESIA.COM: Ternyata hingga saat ini Pelni masih saja mengoperasikan beberapa kapal yang kurang memenuhi syarat dalam pelaksanaan keselamatan pelayaran. Saat ini pemerintah diminta untuk mengaudit hal ini. Desakan itu disampaikan karena berdasarkan pantauan ITS, banyak peralatan keselamatan pelayaran di kapal yang tidak berfungsi sempurna.
Menurut Guru besar Teknik Kelautan ITS Surabaya, Daniel M Rasyid, kebanyakan dari kapal-kapal Pelni yang beroperasi saat ini, kurang memperhatikan perlengkapan keselamatan. “Umumnya kebanyakan kapal tidak memiliki kelengkapan keselamatan, khususnya rakit penolong kembung (Inflateble Lifeart),” ujarnya.
Baca juga: Direktur PT Pelni tak hafal nama kapal dan jadwal pemberangkatan dan Kakek asal Malang tewas saat hendak naik Kapal Leuser
Daniel M Rasyid menyoroti tidak berfungsi secara optimalnya peralatan Inflatable Liferaft. Hal itu akan semakin parah ketika jumlah pelampung yang tersedia tidak memadai. “Dari pantauan ITS, peralatan Inflatable Liferaft tidak mengambang secara sempurna ketika ada di air laut sehingga tidak dapat digunakan sebagai alat angkut darurat secara maksimal,” ungkapnya.
Menurutnya, operator pelayaran saat ini seharusnya sudah didesain menggunakan pendekatan berbasis resiko ditujukan untuk membuat kapal sebagai ‘perahu penyelamat. “Sebaiknya kita harus mulai bergeser dari base inspection ke risk base inspection atau berbasis resiko. Pasalnya, banyak operator pelayaran yang operasionalnya masih di angka kecil, sehingga insentif untuk keselamatan dianggap tidak perlu,” jelasnya.
Keamanan menjadi prioritas utama yang berarti bahwa maskapai pelayaran harus mengadopsi praktik yang telah dirintis di industri penerbangan yang telah mengalami perbaikan pesat selama tiga dekade ini, sehingga menjadi moda transportasi paling aman. “Ini masalah penegakan hukum dibidang keselamatan yang dinilai tidak konsisten dan cenderung tebang pilih,” tambahnya.
Sejumlah temuan ketidaklengkapan persyaratan keselamatan pelayaran, seperti penempatan dan pemasangan Inflatable Liferaft tidak dilakukan sesuai prosedur penempatannya. Misalnya pada pemasangan tali painter dan HRU (Hydrostatic Release Unit) dilakukan kurang benar, penahan dudukan rakit (Cradle Stopper) yang sudah tidak dapat di gerakkan dan di buka akibat karat, dan juga ditemukan beberapa tali painter yang hilang.
Selain itu, ditemukan juga kekurangan pada beberapa kapal dimana tidak berfungsinya alat pendeteksi kebakaran (Fire Detector) yang disebabkan oleh setting yang tidak tepat. Di beberapa kapal lainnya ditemukan juga bahwa motor Sekoci (Life Boat Motor) tidak dapat dihidupkan dikarenakan motor-motor tersebut dalam proses perawatan.
Sementara itu, Manager Jaminan Kualitas dan Layanan Fasilitas, Divisi Pelayanan Jasa Direktorat Operasional Pelni Pusat, Zamroni, menyangkal buruknya kondisi peralatan keselamatan Inflatable Liferaft. Menurutnya, seluruh armada Pelni secara periodik dilakukan pengecekan kesiapannya di sepuluh pelabuhan di Indonesia.
“Dalam pelaksanaannya dilakukan oleh tim yang terdiri dari Marine Inspector kantor pusat dan Kantor Adpel setempat yang melakukan pemeriksaan keselamatan secara acak terhadap 30 kapal penumpang, kapal penyeberangan serta Ro-Ro Ferry,” kata Zamroni kepada Lensa Indonesia.
Kesepuluh pelabuhan tersebut masing-masing Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Makassar dan Pare-Pare ( Sulawesi Selatan), Pelabuhan Merak (Banten) Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), Pelabuhan Trisaksi (Banjarmasin), Pelabuhan Batam, Pelabuhan Lembar (Mataram), dan Pelabuhan Semayang (Balikpapan).
Zamroni menambahkan, pemeriksaan sengaja dilakukan oleh operator kapal adalah sebagai tindakan antisipasi operator kapal untuk mencegah pencurian dan hilangnya alat keselamatan diatas kapal oleh ulah pengguna jasa yang tidak bertanggung jawab. @angga_perkasa
0 comments:
Post a Comment