Thursday, May 21, 2015

Ashin Wirathu, Biksu Budha Myanmar dibalik pembantaian Muslim Rohingya

Ashin Wirathu, Biksu Budha Myanmar dibalik pembantaian Muslim Rohingya

LENSAINDONESIA.COM: Biksu Budha asal Myanmar, Ashin Wirathu menjadi sorotan dunia. Hal ini karena tragedi pembantain dan pengusiran kaum Muslim Rohingnya banyak dikaitkan dengan dirinya.

Saat ini wajah Ashin saat ini banyak menghiasi headline madia massa dunia. Biksu ternama ini disorot tajam seputar peranannya yang mengakibatkan konflik kemanusian di Myanmar.

Baca juga: Pengungsi di Indonesia capai 1.346 orang dan Komisi I DPR minta pemerintah tak telantarkan pengungsi Rohingya

Majalah TIME menulis judul The Face of Buddhist Terror di sampul yang terpampang gambar Ashin. TIME menyebut Ashin Wirathu seperti Osama Bin Laden bagi bangsa Burma.

Selain TIME, sejumlah media dunia seperti The Washington Post, Mirror, Washington Post hingga Al Jazeera ramai-ramai mengulas Ashin Wirathu.

Sedangkan New York Times dan Washington Post menggambarkan Ashin sebagai pembenci muslim. Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Budha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Ashin Wirathu adalah pria kelahiran Kyaukse, Divisi Mandalay, Burma 10 Juli 1968. Selain sebagai Biksu Buddha Burma. Ashin merupakan ketua spiritual gerakan 969.

Ashin mulai menyebarkan gerakan 969 pada tahun 2001 ketika Taliban menghancurkan patung Buddha Bamiyan di Afganistan.

“Sekarang bukan saatnya untuk diam,” kata Ashin seperti dikutip TIME, Rabu (20/05/2015). Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti dikutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada Muslim Rohingya.

Ashin pun dengan terang-terangan di depan pengikutnya dalam ceramah di sebuah kuil menyebut Muslim Rohingya sebagai musuh. New York Times menulis jelas bagaimana kebencian Ashin pada kaum Rohingya.

“Saya bangga disebut sebagai umat Buddha garis keras,” tutur Ashin seperti dikutip New York Times.

Dilansir Detik mengutip laporan CNN, Rabu (20/05/2015), kini kondisi muslim Rohingya memang mengkhawatirkan. Mereka terusir dari rumah mereka di Myanmar. Pemerintah setempat pun bahkan tak bisa berbuat banyak terhadap kekerasan yang terjadi. Mereka memilih untuk pergi menjadi pengungsi.

Ada 1.000-an muslim Rohingya yang saat ini terdampar di Aceh dan Sumatera Utara. Mereka tak mau kembali ke Myanmar karena menghadapi pembantaian.@ridwan_LICOM/bbs

alexa ComScore Quantcast
counter customisable
Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment