LENSAINDONESIA.COM: Menjelang Bulan Ramadhan, permintaan masyarakat terhadap daging sapi mulai meningkat. Sayangnya tingginya permintaan daging ini tak diimbangi dengan stok sapi lokal yang ada di Jawa Timur, sehingga harga daging sapi kembali naik.
Di Surabaya, sejumlah pedagang sapi juga mulai resah karena harga beli sapi hidup naik sekitar Rp 2000 per kilogramnya. Jika harga sebelumnya Rp 40.000-41.000, sekarang harga naik menjadi Rp 42.000-43.000.
Baca juga: Disnak Jatim jamin stok sapi aman pada tahun ini dan Harga daging sapi karkas capai Rp 85.400 awal 2015
Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS), Muthowif mengakui bahwa kenaikan harga sapi itu dirasa berat. “Ini permintaan sudah mulai meningkat tapi harganya naik. Sapi hidup per kilonya naik Rp 2.000, ini lumayan berat. Karena itu imbasnya harga daging sapi juga ikut naik,” ujarnya, Senin (4/5/2015).
Dijelaskannya, kenaikan harga sapi ini juga disebabkan hal lain yakni kurangnya stok sapi lokal. Karenanya para pedagang juga banyak mendatangkan sapi dari luar, seperti sapi Bali. Sementara kenaikan harga daging sapi potong yang ada di pasaran mencapai Rp 95.000-96.000 per kilonya.
Pihaknya khawatir jika permintaan terus tinggi, maka harga daging sapi akan terus merangkak naik terutama saat menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti. “Sekarang ini di RPH Surabaya sapi yang dipotong per harinya bertambah lima sampai sepuluh ekor,” tambahnya.
Dibagian lain, Komisi B DPRD Jawa Timur menyatakan kenaikan harga daging sapi harus diawasi langsung Dinas Peternakan Jatim. Anggota Komisi B, Zainul Lutfi meminta agar segera ada pemantauan dan operasi pasar terhadap penjualan harga daging di pasaran Jatim.
“Belum selesai persoalan naiknya bahan pangan sebagai imbas dari naikknya harga BBM, kini masyarakat dibingungkan dengan naiknya daging sapi di pasaran. Melihat kenyataan ini, seharusnya Dinas Peternakan provinsi segera menggelar operasi pasar. Jangan sampai warga Jatim terbebani, apalagi ini menjelang puasa dan Idul Fitri,” tegas Zainul Lutfi politisi asal PAN.
Bahkan, Lutfi mensinyalir di rumah-rumah pedagang sapi saat ini banyak memotong sapi betina. Ini sebagai antisipasi dengan langkanya pasokan daging, sehingga mereka menghalalkan segala cara. Padahal dalam Perda sudah ada larangan untuk memotong sapi betina produktif sebagai alasan agar sapi betina dapat melahirkan dan menghasilkan daging maupun susu. Adapun yang melanggar jelas ada sanksinya.
“Namun sepertinya masyarakat tidak peduli dengan larangan tersebut. Pasalnya, mereka tetap harus memiliki penghasilan untuk memenuhi kehidupannya. Tak heran sapi betina produktif akhirnya disembelih juga untuk memenuhi kebutuhan yang memang di pasaran harganya terus merangkak naik,” tukas Lutfi.@sarifa
%7Cutmcsr%3D(direct)%7Cutmcmd%3D(none)%3B%2B__utmv%3D89034813.b442a3d467d79bcd782876aeba4e3fd5%3B)
0 comments:
Post a Comment