Monday, May 4, 2015

Surabaya tak kunjung bebas dari banjir

Surabaya tak kunjung bebas dari banjir

LENSAINDONESIA.COM: Kawasan Surabaya Barat nampaknya belum bebas banjir. Terbukti, diguyur hujan sejak tiga hari lalu sejumlah wilayah seperti Kalianak, Margomulyo, Tandes, Darmo Indah, Balongsari, Manukan, Benowo dan Pakal langsung terendam air.

Berdasarkan pantauan Lensa Indonesia, hingga Senin (4/5/2015) di kawasan tersebut masih terdapat genangan air akibat banjir sejak dua hari lalu. Bahkan di sepanjang Jl Kalianak yang biasanya banyak dilalui kendaraan berat, terjadi macet akibat banyak sopir kendaraan yang tak bisa melaju dengan lancar.

Baca juga: Pemkot Surabaya lakukan pembebasan lahan sekitar Kali Lamong dan DPRD Surabaya kesal Pemkot anggap banjir sebagai genangan

Wawan, salah satu warga yang melintas Jl Kalianak menggunakan motor, mengaku lebih memilih memutar untuk menghindari kawasan banjir. Hal ini dilakukan karena tak ingin terjebak macet dan kemungkinan kendaraannya mogok. “Maklum mas lagi ngirim dagangan. Harus dikirim tepat waktu jadi harus memutar masuk melalui gudang 55 daripada kena macet dan banjir. Apalagi kendaraan yang lewat disini besar-besar. Kalau habis hujan deras mesti banjir dan macetnya sampai sini (Jl Kalianak),” katanya.

Faktanya, selain hujan deras, banjir juga dimungkinkan karena normalisasi sungai belum selesai pengerjaan gorong-gorong di Balongsari dan belum tersedianya pompa air hujan. Pompa air hujan hanya di Balongsari dan Margomulyo Tengah saja.

Kepala Bidang Pematusan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Surabaya, Samsul Hariyadi, mengatakan banjir di bagian barat tersebut karena di wilayah ini belum memiliki pompa air hujan dan sedang ada pengerjaan proyek gorong-gorong.

“Daerah barat belum ada pompa air untuk mengalirkan air ke laut. Juga proyek gorong-gorong belum tuntas. Daerah barat masih menggunakan gravitasi dan mengandalkan saluran berupa sungai alami yang menjadi saluran wilayah Sememi, Kandangan, dan Sumber Rejo,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini pihaknya hanya dapat menunggu surutnya air laut apalagi banjir semakin diperparah dengan permukaan sungai yang sempit dan lebih tinggi dari jalan. Sungai alami yang harusnya selebar delapan sampai sepuluh meter kini tinggal tiga sampai empat meter saja. “Sudah kami usulkan, tahun depan akan dipasang box culvert dari Balongsari sampai Pakal, agar tidak digunakan lagi oleh PKL,” tandas dia.@iwan

alexa ComScore Quantcast
counter customisable
Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment