LENSAINDONESIA.COM: Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Kamis (4/6/2015), mencurigai adanya agenda besar atau titipan pasca Petral dibubarkan. Aksi itu diyakini hanya memindahkan penguasaan impor BBM (bahan bakar minyak) dan crude oil dari grup mafia migas lama ke jaringan mafia berkedok Trisakti dan Nawacita.
“Sangat jelas dan kasat mata kalau ditarik benang merah Terkait Pembubaran Petral dikomandoi oleh kakak dari Meneg BUMN Rini Sumarno yaitu Arie Sumarno yang mantan Dirut Pertamina dan Pengagas ISC ( Integrated Supply Chain )Pertamina Dan juga mantan Direktur Utama (Dirut) Petral dan Mantan Ketua Kelompok Kerja Energi dan Anti Mafia Minyak dan Gas (Migas oleh Tim Transisi Jokowi-JK,” terang Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Tri Sektianto dalam pesan elektroniknya hari ini di Jakarta.
Baca juga: DPR ancam panggil paksa Menteri ESDM dan BBM tidak turun, Pemerintah berantas mafia migas dianggap "abal-abal"
Tri menduga, pembubaran Petral didasari catatan Menteri ESDM Sudirman Said dulunya pernah menjadi nahkoda ISC. ISC saat ini ditunjuk sebagai pengganti Petral.
Ia juga menuding, penggagas Integrated Supply Chain (ISC) sekaligus eks bos Petral, Arie Sumarno terlibat dalam jaringan mafia migas baru ini.
Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mendesak agar KPK turun tangan menginvestigasi intrik bisnis mafia dibalik pembubaran Petral.
Lebih lanjut Tri membeberkan, alasan dibalik aksi pembubaran Petral juga dilandasi adanya kepentingan bisnis makelar alias broker bidang migas yang berada di lingkaran Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, saat ajang Pilpres 2014 kemarin, para pengusaha migas ini menggelontorkan dana kampanye bagi pasangan Jokowi-JK.
Selain itu juga dengan status Indonesia yang sudah menjadi negara importir BBM dan crude oil mestinya merevolusi berpikir di sektor energi nasional. Ia menyarankan, Indonesia bakal lebih diuntungkan dengan mendirikan refinery di banyak tempat. Karena dengan upaya itu, negara bisa mengurangi kebutuhan pengunaan mata uang dolar AS. Sekitar 20 persen dari crude oil yang direfinery bakal mengeluarkan produk-produk bahan baku plastik, aspal, nafta, LPG dan farapin. Hingga kini, Indonesia tercatat sebagai negara yang masih mengimpor untuk sejumlah jenis bahan baku itu.
“Tak cukup sampai disitu saja, sampai sekarang komoditi olefin pun Indonesia masih impor. Jokowi jangan mau dibohongi mafia migas dengan kedok ISC,” sambung Tri.
Dirinya yakin, para pengusaha emas hitam –sebutan minyak mentah– ini tak mungkin bisa melakukan usaha impor BBM dan crude lawan Petral. Pasalnya, sebelum era Jokowi mereka sudah jauh hari berbisnis dan tak bisa berkompetisi kontra Petral. Terutama dalam ajang perebutan lahan kompetisi jalur distribusi BBM dan crude oil yang dulunya didominasi Petral. @rilis/licom/redaktur: adrian/
0 comments:
Post a Comment