LENSAINDONESIA.COM: Walikota Surabaya Tri Rismaharini, akhirnya gagal merealisasikan proyek prestisius kebanggannya, pembangunan infrastruktur
transportasi trem dalam tahun ini. Proyek angkutan massal yang digadang-gadang warga Surabaya jadi solusi kemacetan ini diprediksi pada 2015 ini, baru selesai melakukan feasibilty study atau studi kelayakannya.
Baca juga: DPRD anggap pembangunan Trem Surabaya sia-sia dan Dipaksakan, pendanaan proyek trem Surabaya tidak jelas
Kementrian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi realisasi mundur, lantaran saat ini baru melakukan studi kelayakan. Praktis, proyek angkutan massal yang diperkirakan menelan anggaran Rp2,2 triliun itu baru bisa dikerjakan tahun depan.
Menteri Perhubungan Ignasius Johan seusai mengisi acara Airlangga Accounting International Conference (AAIC) Rabu (3/5/15), mengatakan, saat ini pihaknya masih menuntaskan studi kelayakan terlebih dulu. Setelah itu, Kemenhub baru menggelar tahap lelang proyek prestisius di Surabaya ini.
“Saya kira untuk pekerjaan lelang, sangat kecil untuk dilakukan tahun ini, mungkin tahun depan,” kata Menteri yang namanya mengorbit sejak Menteri BUMN Dahlan Iskan menunjuknya sebagai Dirut PT KAI hingga berhasil mengubah total wajah transportasi perkeretapian di tanah air.
Pemkot Surabaya, Kemenhub, dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator trem dalam proyek angkutan massal ini sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Dalam MoU tersebut, Kemenhub dan Pemkot Surabaya sebagai pemegang dan penanggungjawab proyek. Sedangkan PT KAI sebagai operator trem.
Rencananya, proyek prestisius jalur trem Surabaya itu akan membentang sepanjang 17 Km yang menguhubungkan wilayah Surabaya Selatan dan Utara. Lajur rel dimulai dari Jalan Wonokromo, Jalan Pandegiling, Jalan Embong Malang, Jalan Kedungdoro, Jalan Pasar Blauran, Jalan Pasar Turi, Jalan Indrapura, Jalan Rajawali, Jalan Jembatan Merah, dan berputar hingga Tugu Pahlawan. Jalur trem ini bakal memiliki 29 titik pemberhentian.
Terkait hal ini, pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Imron Rozuli, mengatakan, infrastruktur jalan akan membawa dampak secara langsung pada pertumbuhan ekonomi dan sekaligus investasi.
Angkutan massal berupa trem ini, diiharapkan dapat mempercepat mobilitas masyarakat dan juga barang di wilayah Surabaya.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya Surabaya banyak didorong sektor konsumsi. Nah, dengan adanya percepatan mobilitas orang dan barang ini juga akan meningkatkan konsumsi. Transaksi juga akan naik juga,” kata Imron.
Imron menilai, proyek yang didanai pemerintah pusat ini juga akan mengakibatkan pemerataan ekonomi. Artinya, sentra pertumbuhan ekonomi Surabaya yang selama ini hanya terkonsentrasi di pusat kota, nantinya akan menyebar ke pinggiran kota.
“Di seluruh kota-kota besar di dunia, semuanya mengandalkan tranportasi massal seperti kereta api. Selain mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, juga bisa membuat jalan menjadi lebih tahan lama,” jelasnya.
Adanya kemunduran realisasi proyek prestisius ini, praktis menjadi tanda tanya besar terkait kelangsungan nasib proyek Pilkada akhir 2015, jika ternyata Risma tidak memenangkan perebutan kursi Walikota yang kini didudukinya. Wajar, muncul kekhawatiran akan mengalami nasib nyaris serupa proyek monorel di Jakarta era mantan Gubernur Foke yang macet setelah terlanjur dibangun konstruksi tiang beton. @iwan
0 comments:
Post a Comment