LENSAINDONESIA.COM: Ada pesan seksi yang disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi’i Ma’arif saat menerima kunjungan Joko Widodo (Jokowi). Tokoh cendekiawan muslim ini berpesan bila Jokowi terpilih jadi presiden 2014-2019, perlu membentuk zaken kabinet.
Buya Syafi’i menyiratkan optimistis Jokowi dikehendaki rakyat Indonesia untuk menggantikan posisi Presiden SBY, yang selama dua periode kepemimpinannya membentuk Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Zaken kabinet, yang ia maksud, tentu beda dengan KIB-nya SBY yang diisi kader partai politik anggota koalisi Demokrat. Buya Syafi’i Ia ingin kabinet Jokowi beranggotakan para menteri dari kalangan profesional atau para ahli di bidangnya, dan bukan representatif dari parpol.
Baca juga: Popularitas Jokowi tak jamin menang Pilpres satu putaran dan Fadli Zon: Ratusan akun 'nasi bungkus' Jokowi menebar fitnah
“Indonesia butuh pemimpin yang kuat, jujur, dan mengedepankan kepentingan bangsa di masa mendatang,” tandas Buya Syafi’i kepada Jokowi di rumahnya, di Jalan Halmahera D/76, Perum Nogotirto Elok II, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (3/5/14).
Buya Syafii adalah tokoh di Yogyakarta yang pertama didatangi Jokowi selama berkunjung ke Yogyakarta, Jawa Tengah. Selama bertemu, keduanya saling bersahaja dan akrab. Maklum, Jokowi yang alumni Fakultas Kehutanan UGM ini bertemu Syafii Maarif sudah kelima kali ini sejak jadi Walikota Solo.
Meski bukan representatif Parpol, Buya Syafii tetap memberi keleluasaan menteri dari kader parpol. Cuma, ia berharap, selama mengemban amanah sebagai menteri harus menanggalkan kepentingan kepartaiannya, dan melepas semua posisi struktur partai. Alasan Buya Maarif, tugas menteri bukan untuk partai, namun bangsa dan negara. “Harus mengutamakan mengurus bangsa dan negara,” tegasnya.
Bukan cuma soal kabinet yang jadi pesan Buya Syafi’i. Ia juga berbicara soal kriteria calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi. Baginya, soal pria atau perempuan tidak penting. Begitu pula dari golongan tua atau muda juga sama. Ia hanya pesan, yang terpenting harus memahami pemasalahan kebangsaan. Sehingga dapat menyatukan pandangan membangun kedaulatan negara.
“Syarat lainnya, para calon harus memahami persoalan perekonomian nasional. Minimal paham ekonomi makro. Saya berharap Jokowi paham betul,” tandas Buya Syafi’i.
Walau begitu, Buya Syafi’i mengaku tahu siapa cawapres yang digandeng Jokowi. Cuma, ia tidak mau menyebutkan nama, karena menunggu sampai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengumumkan secara resmi 9 Mei mendatang.
Apakah yang dimaksud Buya Syafi’i, termasuk nama-nama yang kini santer jadi gunjingan seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD, atau Ryamizard Ryacudu, memang tidak terucap. Begitu pun sinyal apakah dari sipil atau militer. Buya Syafi’i berpandangan, cawapres yang dipilih mendampingi Jokowi mengedepankan amanah bangsa dan negara.
“Jokowi perlu didampingi oleh orang yang berpengalaman dan bisa bekerja sama” kata dia.
Sementara itu, Jokowi mengakui dapat banyak wejangan dari Buya Syafi’i, termasuk harus menjalankan ajaran Trisakti Bung Karno. Yaitu, negara yang berdaulat dan bebas di bidang politik, berkepribadian dalam berbudaya, dan berdikari dalam usaha.
“Beberapa kali saya bertemu Buya selalu diisi dengan hal-hal yang bagaimana memperbaiki, membenahi,” kata Jokowi. Buya Syafi’i, katanya, juga menyinggung masalah sektor perkebunan hingga pertambangan dikuasai oleh asing.
Sebelumnya, Jokowi juga berkunjung di para kiai di Jawa Timur dan juga mampir rumah Khififah Indar Parawansa. Jokowi munjuk secara resmi Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama ini menjadi juru bicara timnya pada pemilihan presiden mendatang. @ant/yuwan
0 comments:
Post a Comment