Monday, May 5, 2014

Penyakit kardiovaskular penyebab kematian terbesar di Indonesia

Penyakit kardiovaskular penyebab kematian terbesar di Indonesia




LENSAINDONESIA.COM: Hasil kajian World Health Organization (WHO) disebutkan angka kematian di Indonesia terbesar disebabkan penyakit kardiovaskular (PKV) atau penyakit jantung dan pembuluh darah, sebanyak 30 persen.


Kepala Laboratorium Kateterisasi Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dr. A. Fauzi Yahya, Sp.JP mengatakan, bahwa 62 % laki-laki atau 42 % wanita mengetahui PKV ketika mengalami serangan jantung. Sepertiga meninggal sebelum sempat mendapatkan penanganan. Padahal, penyakit Jantung Koroner (PJK), Stroke dan Penyakit Pembuluh Darah Perifer diawali dengan aterosklerosis.


Baca juga: Taman Paliatif, sarana kesehatan di Surabaya yang belum maksimal dan Gudeng jantung pisang, resmi jadi ikon Desa Wisata Jelok, Yogyakarta


Setiap orang mengalami proses aterosklerosis, namun dengan progresivitas yang berbeda-beda. Jika ada ada faktor keturunan, maka progresivitas lebih tinggi. Begitu pula jika ada faktor2 risiko lainnya. Faktor genetik mendasari terjadinya aterosklerosis, sedangkan lingkungan mendorong progresivitas aterosklerosis.


Teori lain yang mendasari serangan jantung adalah thrombosis dan plaque rupture, Demikian dikatakan dr Fauzi dalam seminar bertema “Good Doctor for the Great Family: Seminar on Managing Cardiovascular Disease (CVD) Risks” yang diselnggarakan Laboratorium Klinik Prodia, serentak di 15 kota besar di Indonesia.


Lebih jauh, dr. Fauzi menyampaikan, faktor lain penyebab kematian itu adalah inflamasi, yang bertindak seperti teroris yang bergerak di bawah tanah yang mengancam. Sehingga terjadi plaque rupture dan thrombosis, dimana sekitar 14 % menyebabkan sindrom koroner akut atau serangan jantung.


Dr Fauzi menyatakan bahwa penyakit jantung bukanlah penyakit lokal, tetapi merupakan sistemyc disease. Terapi lokal, misalnya pemasangan stent atau balon pada pembuluh jantung yang tersumbat tidak akan ada artinya tanpa pengobatan sistemik terhadap faktor risiko yang dimiliki.


Sering klinisi bertindak seperti pemadam kebakaran. Padahal klinisi yang canggih adalah yang dapat memperkirakan risiko PKV dan menangani dengan baik faktor risiko tersebut. “Faktor risiko mencakup riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, lipid, diabetes, obesitas, dan lain-lain,” jelasnya.


Serlyana Herman, S.Si,Apt-Product Specialist PT Prodia Widyahusada, sebagai narasumber dari Laboratorium Klinik Prodia menambahkan bahwa sejumlah pemeriksaan laboratorium yang bermanfaat dalam menentukan seberapa besar risiko seseorang untuk terkena PKV.


Secara khusus, Serlyana menjelaskan peran lipoprotein dalam jalur metabolisme lipid termasuk kolesterol LDL yang dikenal sebagai “kolesterol jahat”.


Peningkatan kolesterol sebesar 10% akan meningkatkan risiko aterosklerosis dan PKV sebesar 20%. Karena itu, sangat penting mengukur kadar kolesterol LDL-C dalam tubuh dan menjaga kadarnya dalam batas normal. Akan tetapi pemeriksaan kolesterol LDL saja tidak cukup karena ternyata ada beberapa jenis lipid dan lipoprotein yang lebih aterogenik atau lebih berbahaya yakni Apo B dan Lp (a) atau Lipoprotein (a).


Menurutnya, Apo B dan Lp(a) sangat dianjurkan bagi individu penyandang diabetes, obesitas, resistensi insulin dan hipertensi.


Selain itu, Serlyana menjelaskan juga peran pemeriksaan penanda inflamasi atau peradangan yakni high sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP), karena dalam perkembangan PKV terjadi inflamasi ringan pada pembuluh darah. Diharapkan sejumlah pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter dalam memberikan informasi lebih lengkap mengenai risiko pasien terhadap Penyakit Kardiovaskula.


Sementara itu, Ampi Retnowardani selaku Marketing Communication Manager Laboratorium Klinik Prodia mengatakan, melalui kegiatan seminar ini diharapkan dapat dapat memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat terhadap berbagai masalah kesehatan untuk mendukung terwujudnya Indonesia Sehat, sebagaimana dicanangkan oleh Departemen Kesehatan.


Program ini dilakukan secara berkala dengan berbagai topik, sesuai dengan masalah kesehatan yang sering ditemukan. Selain itu, Laboratorium Klinik Prodia juga menyediakan informasi tertulis dalam bentuk brosur yang diberikan gratis untuk masyarakat yang memerlukan, pungkasnya. @husein.


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment