LENSAINDONESIA.COM: Sebanyak 21 daerah memastikan diri tidak mengikuti event kejuaraan Pekan Paralympic Pelajar Daerah (Peparpeda) III se-Jatim yang berlangsung 17-19 Juni di Surabaya yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dispora) Jatim.
Absennya 21 daerah karena kurang koordinasinya Dispora dan Diknas daerah yang ada di Jatim, padahal Dispora Jatim sendiri mengklaim sudah aktif melakukan sosialisasi ke daerah, termasuk juga melakukan talent scouting ke daerah-daerah.
Baca juga: Jatim alami “krisis” atlet bola sodok dan PB POBSI tetap andalkan Atlet senior
Kadispora Jatim dr Sugeng Riyono, menyebut daerah yang hadir hanya 17 , yakni Trenggalek, Blitar, Surabaya, Banyuwangi, Lumajang, Magetan, Jember, Jombang, Pasuruan, Kediri, Pamekasan, Sidoarjo, Tulungagung, Pacitan, Bangkalan dan Malang. “Event Keparpeda hanya diikuti sebanyak 114 atlet paralympian dan 3 cabang olahraga (cabor) yaitu atletik, tenis meja dan bulu tangkis,” ujarnya.
Lebih lanjut Sugeng menjelaskan event ini untuk memupuk nilai persahabatan dan persaudaraan. “Peparpeda lebih dari sekedar ajang kompetisi dan mengukir prestasi, event sekaligus menjadi ajang saling mengenal, mengerti dan memperkokoh tali persaudaraan dan persahabatan di antara para pesertanya yang datang dari berbagai daerah di Jatim,” paparnya.
“Selain itu, kami juga berupaya menanamkan semangat hidup, yakni teguhnya tekad dan semangat memperoleh yang terbaik dari kehidupan apapun hambatan yang dihadapi para atlet. Mereka yang mengikuti event olahraga ini adalah orang-orang yang berhasil melewati tantangan,” imbuhnya.
Diharapkan peserta Peparpeda dapat mencapai prestasi sampai tahap ini dan mempunyai kisah-kisah pribadi yang mencerminkan semangat perjuangan keuletan dan keberanian. “Kekurangan dan hambatan yang anda hadapi sama sekali tak mematikan semangat anda, terimalah salut dan rasa hormat saya yang tinggi bagi anda semua,” sambung Sugeng.
Sekedar diketahui, pembinaan atlet paralympian perlu terus disosialisasikan dan dioptimalkan, baik melalui instansi pemerintah, lembaga-lembaga sosial, pendidikan maupun organisasi. Tujuannya adalah para atlet difabel (cacat) bisa lebih termotivasi dalam ajang olahraga terutama kejuaraan paralympic. @angga_perkasa
0 comments:
Post a Comment