LENSAINDONESIA.COM: Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXI Tahun 2014 mulai digelar di Surabaya, Jumat (13/06/2014).
Kegiatan dimulai dengan serangkaian acara, salah satunya dialog interaktif yang melibatkan Kementerian Kesehatan, BKKBN, PKK Pusat, PKK Jawa Timur.
Baca juga: Bude Karwo, soroti pertambahan penduduk di Jatim dan Rumah Sakit Undaan, beri pelayanan gratis selama East Java Healty
Dalam acara itu, Soekarwo, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jatim Nina Soekarwo, sharing kiat kader PKK Jatim dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI). TP PKK Jatim fokus untuk menangani masalah-masalah yang ada di hulu dan mensinergikan 10 program pokok PKK dalam rangka pencapaian MDGs seperti penurunan AKI tersebut.
“Kader PKK yang ada di grass root telah membantu Pemprov Jatim untuk menekan angka kematian ibu melahirkan. Tren turun terus menerus dengan adanya keaktifan kader PKK,” ujarnya di depan peserta dialog interaktif “Keluarga Sehat Idamanku” di Surabaya.
Ia mengatakan, salah satu yang dilakukan TP PKK Jatim yakni kader PKK melakukan pendampingan terhadap ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi. Dalam melakukan pendampingan terdapat buku pedoman untuk mendampingi dari masa kehamilan hingga masa nifas.
Lebih lanjut disampaikannya, keaktifan PKK Jatim untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan telah dilakukan di 8 kabupaten/kota, ditambah 8 kabupaten/kota. “Rata-rata setiap kabupaten/kota 50 kader mendampingi 50 ibu melahirkan,” ungkap istri Soekarwo, Gubernur Jatim ini.
Tahun 2013, sejumlah 400 ibu melahirkan di 8 kabupaten/kota yang didampingi kader PKK. Kader PKK Jatim menurunkan kader untuk pendampingan, ditambah kader dari kabupaten/kota hingga jumlah kader yang mendampingi mencapai 740 orang untuk mendampingi 740 ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi.
Langkah-langkah yang telah dilakukan TP PKK Prov Jatim tersebut telah mendapatkan hasil. AKI di Jatim terus mengalami penurunan meskipun AKI nasional mengalami siklus naik turun. Tahun 2010 AKI di Jatim sebesar 104 per 100 ribu kelahiran hidup dan tahun 2011 101 per 100 ribu.
Sementara itu, tahun 2012 turun lagi menjadi 97,47 per 100 ribu turun lagi menjadi 97,39 per 100 ribu kelahiran hidup di tahun 2013. Bahkan data terbaru, AKI Jatim mencapai 97,39 per 100 ribu kelahiran hidup.
Di tempat yang sama, Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan mengingatkan kembali masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Banyaknya persalinan dilakukan di rumah dan usia ibu melahirkan terlalu muda menjadi penyebab terbesarnya.
Untuk itu, pemerintah terus menekankan angka AKI terus menurun. Dengan cara menyelamatkan dan mencegah kematian ibu hamil. “Saya berpesan pada jajaran kesehatan, kalau bisa jangan ada satu ibu hamil yang tewas karena sebenarnya bisa dicegah. Ibu hamil dan bersalin bisa dicegah kematiannya,” papar wanita yang juga dokter spesialis anak.
Program cukup dua anak, lanjut dia, juga bisa menekan angka kematian ibu hamil. Pihaknya mengimbau wanita jangan terlalu muda atau tua untuk melahirkan. “Jangan terlalu muda melahirkan, seperti usia di bawah 20 tahun, dan jangan terlalu tua. Juga, jangan terlalu rapat (jarak usia antara anak satu dengan lainnya). Jelas, kalau terlalu banyak juga berisiko,” simpulnya.
Sudibyo, Alimoeso, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN menambahkan, Harganas 2014 bertujuan untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menerapkan fungsi keluarga secara optimal.
Ada delapan fungsi keluarga antara lain fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Harganas kali ini mengangkat tema “Melalui Hari Keluarga Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga dalam Mewujudkan Indonesia Sejahtera”. Acara puncak akan dilaksanakan Sabtu (14/06/2014) besok dan dibuka oleh Boediono, Wakil Presiden RI di Lapangan Kodam V/Brawijaya Surabaya.@sarifa
0 comments:
Post a Comment