LENSAINDONESIA.COM: Ketua Komite Tetap Energi dan Pertambangan Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang, disebut-sebut masuk bursa kandidat kuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di kabinet Jokowi-JK. Ia menilai pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) di Indonesia selama ini, terjadi kesalahan dalam meletakan paradigma pembangunan.
“Pengelolaan SDA seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat secara adil dan berbagai pihak secara luas, karena sesuai mandat UUD Pasal 33 ayat (3) adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, secara berkeadilan dan berkelanjutan,” kata Poltak di acara Seminar bertajuk “GROWTH STRATEGIES FOR A RISING INDONESIA” Optimalisasi SDA Untuk Mendukung Pertumbuhan Yang Berkelanjutan” di Hotel Arya Dhuta Makassar, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Gerindra dukung KPK bongkar masalah royalti pertambangan dan Wamen ESDM datangi KPK
“Namun yang terjadi adalah pengelolaan SDA lebih menitikberatkan asas ekonomi dimana eksploitasi SDA sebagai sumber devisa namun tidak secara cermat memperhitungkan biaya-biaya lingkungan,” tambahnya.
Titik berat ini, menurutnya, menimbulkan dampak (a) tidak terwujudnya kesejahteraan rakyat, dan (b) kerusakan SDA dan lingkungan hidup makin parah.
Poltal menilai bahwa kekayaan alam Indonesia memberikan tantangan dan kesempatan untuk membawa ekonomi Indonesia ke arah pembangunan berkelanjutan.
Selaku Ketua Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (APEMINDO), ia juga mengritisi tata kelola SDA selama ini belum berpijak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Akibatnya, meningkatkan jarak antara masyarakat dengan alam sekitarnya.
Selain itu, distribusi dan pemanfaatan SDA yang belum merata juga menyebabkan banyak masyarakat menjadi penonton dalam pemanfaatan sumberdaya alam sekitarnya.
Akumulasi permasalahan pengelolaan SDA saat ini, menyebabkan Indonesia menghadapi berbagai tantangan berat. “Diantaranya, peningkatan jumlah penduduk, konversi lahan pertanian, permasalahan subsidi BBM, hilirisasi sektor pertambangan dan isu lingkungan,” tandas Poltak.
Sektor SDA, lanjut dia sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena memiliki kontribusi yang dominan terhadap struktur perkonomian dan memiliki keunggulan kompetitif dibanding dengan negara-negara yang lain. “Sektor SDA memberikan banyak kesempatan kerja, peningkatkan ekspor dan menarik investasi asing,” kata Poltak.
Secara kritis dapat dijelaskan bahwa konsepsi pengelolaan SDA meletakkan pada paradigma yang berbasis negara. Implikasi paradigma ini adalah memberikan wewenang penuh pada negara untuk menguasai, memiliki dan mengatur pengelolaan SDA. Hal ini dicirikan dengan bentuk institusi dan kebijakannya yang sentralistik, pendekatan atas-bawah, orientasi target ekonomi, perencanaan makro dan penganggaran ketat.
Poltak menjelaskan, dengan perubahan/pergeseran era pemerintahan yang terjadi saat ini akan ada perubahan di kebijakan dan pengelolaan manajemen yang signifikan di bidang SDA, energi dan sumber daya mineral (ESDM).
Untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang scarce, ada kebutuhan mendesak untuk menemukan cara terbaik untuk mengelola sektor ini dengan mengidentifikasi kompetisi internasional, best practice untuk manajemen berkelanjutan yang bersih dan pengelolaan pajak, royalti dan kebijakan sumber daya alam yang efektif,” kata dia lagi.
“Optimalisasi SDA di Indonesia dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan dapat dicapai melalui pengelolaan dan pelaksanaan kebijakan terbaik namun Indonesia masih harus terus berjuang untuk bisa mengembangkan sektor ini dengan sepenuhnya,” tandasnya. @licom-09
autentikasi:
Humas Arie S
0 comments:
Post a Comment