LENSAINDONESIA.COM: Kenya mengumumkan tiga hari masa berkabung pasca pembantaian lebih dari 100 mahasiswa Garissa University.
Peringatan paskah akan digelar untuk mengingat 148 orang yang jadi korban serangan grup militan al-Shabab. Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta meminta agar komunitas Muslim Kenya ikut mencegah terjadinya radikalisasi.
Baca juga: Serangan al-Shabaab tewaskan 147 mahasiswa
Sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan lima orang ditahan dan beberapa lainnya berusaha masuk ke wilayah Somalia, tak jauh dari kampus itu berada.
Dalam pidato kepada rakyat yang disiarkan di televisi, Presiden Kenyatta menyatakan periode berduka selama tiga hari, meminta rakyat Kenya untuk menjaga “perdamaian dan kestabilan” negara itu.
“Saya mendesak setiap warga Kenya, setiap gereja dan setiap pemuka masyarakat setempat untuk menyuarakan persatuan dan memastikan agar kemarahan kita tidak menyebabkan orang lain menjadi korban,” katanya.
“Itu hanya akan memuaskan teroris.”
Empat tersangka adalah warga Kenya keturunan Somalia, dan lima lainnya adalah Tanzania. Otak serangan, Mohamed Mohamud, mantan guru di madrasah di Garissa masih dalam pelarian.
Kenya menawarkan hadiah USD215 ribu untuk yang berhasil menangkapnya.
Presiden Kenyatta menekankan keyakinannya bahwa “Islam adalah agama yang damai dan toleran” dan mengatakan warga Somalia dan Muslim di Kenya “merupakan bagian penting” dari kehidupan ekonomi dan politik Kenya.
“Tugas kami melawan terorisme kini makin sulit dengan adanya fakta bahwa perencana dan pemberi dana atas tindakan brutal ini ada dalam komunitas kami,” katanya dalam sebuah pidato di televisi.
“Radikalisme yang menyuapi terorisme tidak muncul dalam semalam. Ini membutuhkan waktu berhari-hari, di madrasah, di rumah dan di masjid-masjid dengan imam yang tak bertanggung jawab.” @sita
0 comments:
Post a Comment