Friday, April 3, 2015

PSK ‘Ayam’ Garut bebas mangkal di Rumdin Bupati, tarif Rp200 ribu

PSK ‘Ayam’ Garut bebas mangkal di Rumdin Bupati, tarif Rp200 ribu




LENSAINDONESIA.COM: Ironis. Jalan kawasan depan Rumah Dinas Bupati Garut, Jawa Barat nyaris setiap tengah malam,

para Pekerja Seks Komersial (PSK) leluasa cari mangsa pria pengendara kendaraan iseng yang lewat jalan itu.


Pantauan LIcom, PSK yang mangkal di situ seperti tak mempedulikan kawasan itu merupakan rumah dinas orang nomer

satu di Kabupaten Garut. Malahan, mereka sepertinya tidak khawatir, meski sewaktu-waktu ada razia Satpol PP. Mereka seperti sudah menyiapkan jaringan info bocoran jika ada operasi dadakan.


Baca juga: Klinik Cisansa Garut anggap benar tolak pasien BPJS hari libur dan Tolak pasien BPJS, Ini jawaban direktur Klinik CIsanca Garut


Salah seorang PSK di situ, Siska (30) mengaku, sengaja melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan agama itu karena terpaksa akibat himpitan ekonomi yang kini semakin sulit. Dia tidak mempedulikan apakah tempatnya mangkal itu kawasan rumah dinas pejabat atau tidak. Baginya yang utama bisa cepat mendapatkan konsumen, sehingga pulang ke

rumah bawa uang untuk kebutuhan belanja sehari-hari.


“Ya, terpaksa menjadi PSK, karena himpitan ekonomi yang makin sulit,” kata Siska –bukan nama sebenarnya–

Jumat malam (3/4/2015).


Dikatakan Siska, setiap malam dirinya melayani lelaki hidung belang dengan memasang tarif Rp200 ribu, untuk satu

kali kencan. Bahkan, kalau sudah menjelang larut malam dan dini hari, tarinya turun menjadi Rp100 ribu sampai

Rp50 ribu. “Biasanya para pelanggan datang sekitar pukul 22.00 WIb,” katanya.


Menjadi PSK, dia seperti halnya yang lain, mengakui sebenarnya sangat hina, namun dikarenakan tidak ada pekerjaan lain, cari nafkah dengan cara haram dan dianggapnya gampang-gampang susah ini terpaksa dilakukan.


“Sudah beberapa kali melamar kerja ke setiap perusahaan, tapi tidak ada yang mau menerima,” katanya.


Siska berterus terang, awal menekuni menjadi PSK, setelah keperawanannya direngut sang kekasih. Ketika mengandung, lelaki tersebut tidak mau bertanggungjawab. “Sampai diusir kedua orang tua,” kenang Siska.


Diakuinya, dirinya akan berhenti menjadi PSK, jika sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Siska mengatakan sebenarnya sudah merasa capek menggeluti dunia malam ini. “Selain hina, juga sampai saat ini dijauhi keluarga,” akunya.


Banyak pengalaman pahit selama menjadi PSK, bahkan dia kerap terjaring razia yang dilakukan Satpol PP di Garut.


Pantauan LICOM, di sepanjang trotoar Masjid Agung depan Rumah Dinas Bupati Garut, ada puluhan wanita yang menjadi

PSK. Mereka ini lebih banyak yang berusia relatif masih belia. @taufiq_akbar


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment