LENSAINDONESIA.COM: Mantan anggota DPRD Kota Surabaya Alim Basa Tualeka mengkritik proyek trem, yang digagas Walikota Tri Rismaharini. Pria yang saat ini hendak maju menjadi walikota dalam Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya Desember mendatang itu menilai, proyek trem tidak akan mampu mengurai kemacetan di Kota Pahlawan ini.
Alim, usai mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Walikota Surabaya di kantor DPC Partai Gerindra Surabaya Kamis (21/05/2015) mengatakan, proyek trem hanya membuang anggaran.
Baca juga: Dipaksakan, pendanaan proyek trem Surabaya tidak jelas dan DPRD Surabaya siap `jegal` Proyek Trem Pemkot
Menurut dia, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak bisa memaksa warganya untuk naik trem ketika hendak ketempat kerja. Warga harus bebas memilih menggunakan moda transportasi apa saja yang mereka inginkan.
“Kalau untuk buang anggaran buat apa?. Surabaya itu bukan Singapura. Walikota tidak bisa memaksa warganya untuk naik trem. Saya yakin ketika trem itu jadi dibangun, pasti akan sia-sia. Warga nggak akan mau naik trem. Mereka lebih suka naik kendaraan pribadi,” katanya, Kamis (21/05/2015).
Direktur Utama PT Bintang Ilmu itu memaparkan, untuk mengurai kemacetan, Pemkot harus membangun jalur lingkar luar, baik timur maupun barat Surabaya. Jalan lingkar ini dibangun diatas atas mirip jembatan layang.
Kemudian dititik-titik tertentu terdapat jalan yang manghubungkan jalan lingkar tersebut menuju ke pusat kota. Hampir disemua kota-kota yang ada dinegara maju menggunakan konsep seperti ini.
“Jadi semua kendaraan tidak harus menumpuk dipusat kota. Ketika hendak ke Surabaya selatan dari arah utara, tidak harus ke pusat kota dulu. Tapi lewat jalur lingkar luar. Ini lebih efektif atas kemacetan,” paparnya.
Alim juga mengungkapkan, dengan adanya jalur lingkar luar ini, maka perkampungan-perkampungan yang ada di Surabaya bisa lebih terlindungi. Ini karena arus masuk kendaraan ke dalam kota mulai berkurang karena sebagian besar melewati lingkar luar.
Kemudian, perkampungan, khususnya yang memiliki nilai sejarah, harus mampu dijaga kesejarahannya. Banyak perkampungan bersejarah di Surabaya yang tidak digarap dengan baik. Misalnya kampung Peneleh.
“Kalau mikir konsep Surabaya harus secara utuh bukan satu bidang saja. Termasuk dalam hal melestarikan kampung wisata. Jangan yang baru dijadikan kampung wisata, yang asli tempat sejarah dilupakan. Ini aneh,” terangnya.@wan
0 comments:
Post a Comment