LENSAINDONESIA.COM: SETARA Institute mengapresiasi hasil pertemuan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla yang membahas reshuffle sebagai momentum konsolidasi dan jalan peningkatan kinerja pemerintahan.
Namun, jika memang dilakukan reshuffle maka tidak boleh mengakomodir kepentingan partai politik. Reshuffle juga bukan obat penawar segalanya.
Baca juga: Pengamat ini yakin Rizal Ramli bisa wujudkan Nawacita Jokowi dan DPR: Perekonomian Indonesia sudah sangat kritis
“Jika kepemimpinan (Presiden) Jokowi tidak berubah, maka reshuffle juga akan sia-=sia dan tidak akan mampu meningkatkan kinerja,” kata Ketua Setara Institute, Hendardi dalam rilis yang diterima lensaindonesia.com, Kamis (21/5/2015).
Ia mengingatkan salah satu penyebab rendahnya kinerja pemerintahan adalah kepemimpinan Jokowi yang lemah.
“Jokowi-JK juga mesti satu padu dalam bersikap, karena dalam banyak hal keduanya berbeda sikap dan kontraproduktif bagi kinerja pemerintahan,” pungkasnya.
Pertemuan Jokowi-JK dilakukan usai rapat kabinet. Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak membantah adanya pembahasan tentang perombakan kabinet atau reshuffle dalam pertemuan itu.
Kalla menuturkan perombakan kabinet masih dalam tahap pembahasan dan masih belum ada nama-nama menteri yang akan diganti. Isu perombakan kabinet muncul setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla pada awal Mei mengatakan perombakan akan dilakukan dalam waktu dekat pada kementerian yang kurang berprestasi. @sita
0 comments:
Post a Comment