Thursday, December 25, 2014

Berbagi taksi dengan orang asing, Addison ditahan polisi Timor Leste

Berbagi taksi dengan orang asing, Addison ditahan polisi Timor Leste




LENSAINDONESIA.COM: Solo traveller asal Amerika, Stacey Addison ditahan selama berbulan-bulan di Timor Timur. Dia mengaku tanpa sadar berbagi taksi dengan orang asing yang membawa methamphetamin. Untungnya, sekarang dia dibebaskan.


Perempuan 41 tahun asal Oregon itu dibebaskan dari penjara Timor Timur pada Kamis (25/12/2014), empat tahun setelah penahanannya. Dia mengaku tidak bersalah.


Baca juga: Political will jadi kunci perubahan nasib perempuan Indonesia dan Maggie Vessey, atlet paling stylish saat ini


Addison muncul dalam pemberitaan setelah mantan Presiden Timor Timur yang juga penerima Nobel, Jose Ramos Horta menyatakan akan menampungnya di rumahnya.


Belum ada detail mengenai alasan pembebasannya atau kapan Addison bisa meninggalkan negara terkecil di Asia Tenggara itu. Dia dilaporkan tidak bisa meninggalkan negara itu karena paspornya masih belum dikembalikan.


Kementerian Luar Negeri menyambut gembira keputusan tersebut. Juru bicara Jen Psaki mengonfirmasi bahwa pemerintahan setempat masih menahan paspornya.


Ditanya soal keinginannya jika paspornya dikembalikan, “Pulang ke rumah.”


“Saya yakin ibu saya tidak akan memaafkan saya bila tidak segera pulang ke rumah dan tinggal disana untuk beberapa waktu,” katanya.


Penahanannya pada September lalu merupakan hal yang tidak diduga selama perjalanan solo travel mengelilingi dunia. Dia mengatakan menjadi penjelajah tunggal sejak Januari 2013.


Addison memilih keluar dari pekerjaannya sebagai dokter hewan dan berkeliling dunia. Pada 5 September dia berbagi taksi di perbatasan Indonesia menuju Timor Timur.


Menurut ibunya, Bernadette Kero, teman Addison ini meminta berhenti di kantor DHL untuk mengambil paket. Tidak lama setelah lelaki itu mengambil paketnya, polisi mengelilingi mobil dan menahan penumpang.


Paket tersebut ternyata berisi methamphemtamine.


Dia ditahan selama empat hari dan para juri membebaskannya, tapi melarangnya meninggalkan negara ini selama penyelidikan berlangsung. Lelaki yang menumpang taksi bersama Addison sudah bersaksi tidak mengenalnya, kata Kero pada CNN.


Pada akhir Oktober lalu, juri di pengadilan memerintahkan penahanannya lagi dan mengirimnya ke Penjara Gleno, di luar kota Dili.


Pembela Addison, Paul Remedios mengatakan pengadilan memerintahkan penahanan kliennya karena ketikdajelasan penjaminan. Addison lantas membuat petisi pembebasannya, namun tidak menyangka lebih cepat.


“Saya berpikir tidak mungkin pembebasan terjadi pada saat Natal, karena semua kantor tututp,” katanya.


“Saya tahu ada penundaan petisi dan tiga minggu say atidak mendengar apapun,” imbuhnya.


Kero mengatakan kasus ini sebuah mimpi buruk. Tapi pembebasan Addison merupakan hadiah Natal terbaik yang bisa dibayangkan.


“Empat bulan terakhir ini adalah periode yang penuh tekanan bagi kami,” kata Kero dalam emailnya pada CNN.

“Tentu saja sekarang kami berharap paspor Addison dikembalikan dan dia bisa kembali pulang ke Oregon secepatnya.”


“Pengacaranya akan bekerja keras agar paspornya dikembalikan. Saya hanya ingin bertemu dan memeluknya lagi,” pungkas Kero.


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment