Tuesday, December 16, 2014

Rawan longsor, Pacitan justru tak punya Ekstensometer

Rawan longsor, Pacitan justru tak punya Ekstensometer




LENSAINDONESIA.COM: Pemprov Jawa Timur menyatakan Kabupaten Pacitan menjadi daerah yang rawan mengalami potensi bencana tanah longsor. Sayangnya, wilayah ujung barat daya Jatim ini justru tak punya Ekstensometer atau alat pendeteksi gerakan tanah sebagai peringatan bencana tanah longsor.


Bupati Pacitan, Indartato, mengaku baru akan melaporkan ke Pemprov Jatim tentang masalah ini agar ditindaklanjuti. “Saat ini yang kami punya adalah alat pendeteksi Tsunami karena letak daerah juga di pesisir laut,” ujarnya kepada Lensa Indonesia ketika ditemui usai peluncuran program `Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera` di Gedung Grahadi Surabaya, Selasa (16/12/2014).


Baca juga: Jalur Trenggalek-Pacitan ambrol tergerus hujan dan Astaga! Honor guru Raudhatul Athfal Pacitan Rp 25 ribu per bulan


Pihaknya mengakui wilayah Pacitan kerap terjadi bencana, seperti tanah longsor, banjir dan gempa bumi berkekuatan kecil. Terakhir, terdapat 34 rumah penduduk mengalami retak-retak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan. “Gubernur Jatim Soekarwo telah menyampaikan ke semua bupati/wali kota untuk melaporkan kondisi di daerahnya, terutama tentang bencana,” sambungnya.


Pacitan sendiri menjadi daerah paling rawan karena kontur tanah setempat yang terdiri dari 85,4 persen pegunungan dan sisanya 14,6 persen merupakan daratan landai.


Sementara untuk upaya waspada di daerahnya, pihaknya telah bekerja sama dengan Badan Geologi setempat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri dan instansi lainnya untuk memetakan titik-titik rawan bencana sehingga bisa diantisipasi dan menghindari timbulnya korban jiwa.


Sebelumnya, BPBD Jatim menetapkan 22 daerah rawan longsor setelah dilakukan pengamatan gerak dan potensi tanah labil dan mudah bergerak dengan Pacitan menjadi daerah paling rawan.


Kepala BPBD Jatim, Sudarmawan, menjelaskan di Pacitan jumlah desa yang telah mengalami tanah longsor sepanjang 2014 ini berada di 45 desa di 13 kecamatan dan menyumbang 32,85 persen longsor di provinsi ini. “Kendati menjadi daerah paling banyak bencana di Jatim, namun longsornya kecil-kecil,” tukas Sudarmawan.@sarifa


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment