LENSAINDONESIA.COM: Sony Pictures akhirnya menayangkan film The Interview di tempat terbatas pada Natal.
CEO Sony Pictures, Michael Lynton mengatakan, pihaknya tidak akan menyerah dan berharap filmnya bisa ditonton lebih banyak orang. “Kami harap ini adalah langkah awal untuk film ini untuk ditonton oleh publik. Kami bangga bahwa tetap berdiri tegak terhadap mereka yang mencoba mengganggu kebebasan berbicara.”
Baca juga: Kolaps 9 jam, jaringan internet Korut mulai normal sebagian dan Obama: Serangan hacker Korut bukan ajakan perang, tapi cybervandalism
Sebanyak 200 bioskop mandiri setuju untuk menayangkan film itu. Jumlahnya diperkirakan mencapai 300 bioskop. Sedangkan perusahaan distributor film seperti AMC atau Regal belum mengeluarkan statemen.
Presiden Obama sebelumnya mengkritik langkah Sony membatalkan perilisan film dan menyebutnya sebagai sebuah “kesalahan”.
Juru bicara kepresidenan, Eric Schultz mengungkap presiden gembira atas keputusan Sony. “Presiden sudah menegaskan bahwa negara kita menerapkan kebebasan berbicara dan hak untuk mengekpresikan diri lewat seni,” katanya.
Korea Utara membantah terlibat dalam serangan cyber terhadap Sony. Tapi mengungkap rasa syukur atas peristiwa itu. Film The Interview berkisah tentang pembunuhan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Sementara itu, jaringan internet di Korea Utara kembali terputus. Dyn Research menyatakan jejaring online negara tersebut kembali tidak berfungsi, setelah sebelumnya mati selama sembilan jam. Peristiwa ini memicu spekulasi bahwa Korut jadi sasaran serangan dunia maya Amerika Serikat.
Terputusnya akses internet yang sudah terbatas di Korea Utara belum dapat dikonfirmasi.
Komisi Pertahanan Nasional (NDC) mengatakan tentara dan rakyat Korut “sangat siap untuk menghadapi AS di semua wilayah perang, termasuk perang dunia maya untuk meledakkan benteng-benteng itu”. @bbc/antara/sita
0 comments:
Post a Comment