LENSAINDONESIA.COM: Sejak ditetapkannya Kabupaten Madiun sebagai wilayah KLB Demam Berdarah permintaan stok darah maupun trombosit meningkat tajam sehingga PMI mengalami krisis dan terpaksa memperpanjang waktu bagi warga yang ingin mendonorkan darahnya.
Kepala bagian pelayanan PMI Kabupaten Madiun, Doni Dwi Setiawan mengatakan, pada Januari 2015 kemarin, setiap hari pihaknya menyiapkan sebanyak 735 katung perhari atau naik sekitar 57 persen dibanding Desember. “Guna mengantisipasi kekurangan stok darah, kami saat ini membuka Posko untuk donor darah di 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Madiun secara bergantian. Kegiatan ini juga sesuai petunjuk dari SK Bupati tahun 2006,” terangnya kepada Lensa Indonesia, kemarin.
Baca juga: PMI luncurkan aplikasi Siaga Bencana lewat Android dan Ratusan prajurit dan PNS donorkan darah sambut HUT Korem 081/DSJ
Doni Dwi Setiawan juga menambahkan kalau dulu sebelum adanya penetapan wilayah KLB Demam Berdarah di Kabupaten Madiun, pihaknya bisa membantu daerah lain terutama yang kekurangan stok darah. Namun begitu ada penetapan wilayah KLB demam berdarah, pihak PMI Kabupaten Madiun berusaha memenuhi kuota di wilayahnya sendiri baru kemudian memikirkan wilayah lain. “Sebelum ada penetapan wilayah KLB Demam Berdarah ini, kami masih bisa membantu wilayah lain. Seperti pengiriman darah ke wilayah Pati, Jawa Tengah ataupun ke Bojonegoro,” tambahnya.
Sementara untuk trombosit, pihak PMI Kabupaten Madiun pada Februari ini perhari hanya menyediakan 20 kantong saja. Alasannya karena usia trombosit sangat pendek, yakni hanya 6 jam saja. Itupun harus diambil dari darah baru. “untuk Februari ini khususnya trombosit, kami hanya siapkan sekitar 20 kantong saja. Penyebabnya, usia trombosit yang hanya enam jam, membuat kami tidak bisa memperbanyak stok,” pungkasnya. @dhimaz_adi
0 comments:
Post a Comment