Tuesday, March 25, 2014

Galih terduga teroris pernah ajari anak Magetan ngaji dan menembak

Galih terduga teroris pernah ajari anak Magetan ngaji dan menembak




LENSAINDONESIA.COM: Galih Satria (29), terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Anti Teror Mabes Polri di Bandara Internasional Sokarno-Hatta, setelah diidentifikasi sebagai pengirim paket berisi dua buah bom pipa melalui jasa pengiriman swasta dari wilayah Panggul dengan tujuan Singkang Waju, Sulawesi Selatan ternyata pernah tinggal

di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.


Galih Satria, warga Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek itu, ditengarai pernah tinggal di Rt 17, Rw 03, Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo selama setahun. Yakni, tahun 2010 sampai tahun 2011. Ketika, dia baru menikahi Triyatun, 33, anak dari pasangan Alm Kamsidi dan Alm Surati.


Baca juga: Polri perang lawan jaringan Nurul Haq dan JAT tuding penangkapan teroris Surabaya hasil rekayasa Densus 88


Selama tinggal di Desa Pelem, Galih yang ditangkap Densus Kamis (13/3/14) itu,dikenal sebagai pribadi pendiam dan misterius oleh tetangga dan saudara dekatnya.


Paman ipar Galih, Djasmadi(57), mengatakan, keponakanya itu jarang bergaul dengan tetangga dan warga lingkunganya. Galih lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Pergaulan Galih hanya dengan orang tertentu yakni dengan rekan- rekanya yang merupakan orang luar desa Pelem.


”Teman-temanya itu datangnya malam, pakai mobil plat AD. Setelah menjemput Galih terus pergi,” kata Djasmadi.


Ulah Galih yang dianggap aneh oleh tetangganya, lantaran Galih mengajari silat kepada anak-anak kecil yang belajar mengaji dirumahnya. Bahkan, Galih juga mengajarkan cara menembak kepada anak-anak kecil menggunakan senapan angin dengan sasaran pohon pisang yang berlokasi di belakang rumah.


”Anak-anak yang ngaji itu diajari pencak silat. Terus belajar nembak dibelakang rumah,” Tambah Djasmadi.


Pasca ditangkap unit Satlantas Polres Magetan karena kepemilikan bahan peledak Januari 2010 lalu, sejumlah orangtua melarang anak mereka mengaji dirumah Galih.


Sementara pasca bebas dari Rutan kelas IIb Magetan tanggal 3 Mei 2011, Galih memboyong anak dan istrinya ke Kabupaten Trenggalek. Keluarga besar Galih yang berada di Desa Pelem kembali dibuat kaget dengan penangkapan anggota keluarganya itu di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mereka tidak mengira suami dari Triyatun masih menjadi bagian dari Teroris.


”Kami kaget setelah melihat TV kemarin. Kok Galih ditangkap lagi,” kata Sriatun, adik kandung Triyatun.


Terpisah, Kepala Desa Pelem Eko Didik Prihandono menegaskan jika Galih Satria sudah bukan warga Desa Pelem lagi. Sejak dibebaskan dari penjara karena tersandung kepemilikan bahan peledak, Galih telah pindah identitas menjadi warga Kabupaten Trenggalek.


”Saudara Galih sudah tidak menjadi warga Desa Pelem lagi sejak bebas tahun 2011 lalu. Dia sudah pindah Identitas menjadi warga Kabupaten Trenggalek,” tegas Kades yang baru menjabat ini. @arso


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment