Tuesday, December 16, 2014

Dewan masjid Indonesia DKI minta guru ngaji dapat intensif

Dewan masjid Indonesia DKI minta guru ngaji dapat intensif




LENSAINDONESIA.COM: Dewan Masjid Indonesia (DMI) DKI Jakarta berharap guru mengaji yang ada di ibu kota mendapatkan intensif tiap bulan, lantaran penghasilan mereka minim.


“Iya betul, minim. Makanya, guru-guru mengaji nanti mau dikasih intensif,” ujar Staf Dewan Masjid Indonesia DKI, Agus Sofyan di Balai Kota, Jakarta, Selasa (16/12/2014).


Baca juga: Umumkan pendapatan perusahaan, PT DMI gelar public expose


Namun menurutnya, hingga kini Dewan Masjid Indonesia DKI belum memperoleh data komprehensif tentang jumlah guru mengaji yang ada di Jakarta. Selain itu, bila kebijakan ini nantinya diterapkan, juga belum jelas siapa yang akan mengkoordinirnya. “Itu Koordinator Dakwah Islam (Kodi) atau DMI (yang mengurus). Ini masih bingung,” ungkapnya.


Meski demikian, Agus Sofyan meminta hanya guru ngaji tertentu yang mendapatkan intensif. Syaratnya, seperti sudah lama mengajar, ilmu agamanya mumpuni dan memiliki tempat mengajar, baik di madrasah, TPA ataupun TPQ. ” Pemberian intensif ini cukup berdasar, lantaran guru mengaji menjadi ujung tombak siar agama Islam. Dakwah itu ternyata dari guru ngaji, karena berdasarkan penelitian, delapan dari 10 murid SMP itu bisa baca Quran. Yang dua enggak bisa,” sambungnya.


Agus Sofyan menambahkan, besaran insentif guru mengaji layaknya sama dengan yang diberikan kepada ketua rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) yakni Rp 1,5 juta tiap bulan.


Pendapat serupa dilayangkan Anggota Komisi E DPRD DKI, Zainudin. Bahkan dia siap mendorong, agar pemerintah provinsi (Pemprov) mulai memperhatikan kesejahteraan guru mengaji. Prosesnya akan disampaikan terlebih dahulu dalam rapat komisi, lalu


“Anggarannya tidak usah dipusingkan, nanti bisa pakai dana dari Pemprov DKI atau dana BAZIS (Badan Amal, Zakat, Infaq, dan Sedekah). Karena sekarang ini persoalan utama anak bangsa yaitu pendidikan moral agama. Sementara guru mengaji sebagai tenaga pendidik, kurang diperhatikan kesejahteraannya,” ungkapnya.


Menyikapi itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI, Heru Budi Hartono, mengklaim pihaknya telah menyalurkan bantuan kepada guru mengaji, namun juga diberikan kepada Marbot masjid. “Tiap tahun sebenarnya kami kasih tunjangan buat guru ngaji dan Marbot melalui dana BAZIS atau Bansos di masjid,” katanya.


Besarnya tunjangan kesejahteraan bagi guru mengaji itu, bervariasi antara Rp 200-300 ribu per bulan, berdasarkan usulan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di wilayah.


Sebelum dana Bansos bagi para guru mengaji digelontorkan, ungkap mantan Wali Kota Jakarta Utara ini, pengurus masjid atau yayasan biasanya mengajukan permohonan bantuan dana, lengkap dengan jumlah dan data calon penerima bantuan.

“Mereka ngajuin dulu. Di masjid misalnya, ada berapa guru ngaji, terus kami kasih bantuan Rp20 juta,” pungkas dia. @fatah_sidik


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment