LENSAINDONESIA.COM: Rolene Strauss memenangkan Miss World 2014 yang diselenggarakan di London.Kemenangannya merupakan yang pertama kali bagi Afrika Selatan setelah lebih dari 50 tahun berpartisipasi di kontes ini.
Pemberian mahkota dilakukan oleh pendahulunya, Megan Young asal Filipina.
Baca juga: Maria Elvira hadapi tuntutan hukuman gantung di Malaysia dan Menteri Yohana ajak Google cegah pornografi anak
Dia menyingkirkan 124 kontestan lain yang sama-sama mengharapkan titel ini. Kemenangannya merupakan yang pertama kali bagi Afrika Selatan lebih dari 50 tahun, mengutip E! News. Di posisi kedua adalah Edina Kulczar dari Hungaria dan Elizabeth Safrit di posisi ketiga. Sedangkan Nonthawan Thonleg memenangkan penghargaan People’s Choice.
“Afrika Selatan, ini untukmu. Saya sangat bangga,” kata Strauss, Minggu (14/12/2014).
Perempuan asli Nelspruit itu membawa isu tentang hak perempuan, kesehatan dan pendidikan, termasuk penyediaan pendidikan mengenai menstruasi bagi gadis yang masih bersekolah di Afrika Selatan.
“Di sana gadis yang tengah menstruasi tidak berangkat k sekolah karena mereka malu. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika siklus bulanan tersebut ada,” kata Strauss dalam videonya bertajuk “Beauty with a Purpose”.
Straussmengatakan banyak orang yang tidak sadar bahwa kekayaan yang paling besar adalah kesehatan.
Majalah People menyebut Strauss memiliki kecantikan dan kecerdasan. Gadis berambut cokelat itu menempuh pendidikan kedokteran selama empat tahun. Kedua orang tuanya juga bekerja di dunia kedokteran. Saat terpilih jadi Miss Afrika Selatan, Maret lalu, dia memutuskan untuk menunda kuliahnya.
Selain ayahnya yang ikut membantu mewujudkan mimpinya, Strauss menyebut nama tokoh revolusioner Afrika Selatan, Nelson Mandela sebagai panutannya.
Kontes kecantikan yang ke-64 tersebut dinodai oleh tragedi ratu kecantikan Honduras yang ditemukan tewas tertembak beberapa hari sebelum dia akan berpartisipasi.
Sebanyak 124 peserta mengunjungi komunitas Oxford awal bulan ini untuk membahas apakah kontes ini masih layak di masyarakat modern. Media Inggris melaporkan sejumlah mahasiswa Oxford University menyatakan kecewa dengan ajang itu karena gagal membangkitkan debat tentang masalah tersebut, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.
0 comments:
Post a Comment