LENSAINDONESIA.COM: Tiga orang tewas dalam insiden penyanderaan selama 17 jam di Kafe Lindt Australia. Dua orang adalah manajer kafe Tori Johnson (34) dan Katrina Dawson (38) seorang pengacara di Sidney Central Business Disctrict (CBD).
Sedangkan satu orang lainnya adalah pelaku penyanderaan, Man Haron Monis (53), seorang pengungsi Iran yang mendapatkan suaka politik yang ditembak dalam penyerbuan yang dilakukan oleh polisi. Tersangka kerap melakukan kejahatan, termasuk tuduhan membunuh mantan isterinya. Tidak ditemukan kaitan dengan aksi terorisme.
Baca juga: Tiga sandera berlari keluar dari Kafe Lindt dan Pria bersenjata sandera 40 orang di Australia
Selain itu enam orang mengalami luka-luka, di antaranya seorang polisi yang mengalami luka akibat dihantam peluru.
Tori Johnson dianggap sebagai pahlawan dalam insiden tersebut setelah bergulat dengan tersangka. Aksinya memberi kesempatan bagi sandera lain untuk melarikan diri.
Orang tua Tori mendeskripsikan putranya sebagai anak laki-laki yan cantik. “Kami sangat bangga terhadap anak kami. Dia telah pergi namun selalu ada dalam memori sebagai teman, anak dan kakak yang luar biasa yang pernah kami minta,” ujar juru bicara keluarga.
Sedangkan pengacara Katrina Dawson, adalah ibu tiga anak dan kakak dari pengacara terkenal di Sidney, Sandy Dawson. Dia secara tragis terbunuh setelah mencoba melindugi koleganya yang tengah hamil, Julie Taylor. “Katrina adalah salah satu teman terbaik kami dan akan dirindukan di NSW Bar,” ujar Presiden Bar Jane Needham SC dalam statemennya, mengutip news.com.au.
Sebelumnya, lima sandera berhasil melarikan diri lewat pintu darurat.
“Ini merupakan insiden yang terkait dengan apapun. Ini insiden terpisah. Jangan biarkan insiden seperti ini membuat percaya diri berkurang untuk bekerja atau mengunjungi kota kami. Ini merupakan tindakan seorang individu,” kata Scipione.
Seorang sandera dibawa keluar dari kafe Lindt setelah pasukan keamanan menyerbu tempat itu.
Monis mendapat suaka politik dari Australia pada 1996.
Monis adalah seorang pengungsi asal Iran. Ia mendapat pembebasan dengan jaminan dalam sejumlah kasus kekerasan. Dalam situs, yang kini sudah dicabut, ia menyebut dirinya sebagai seorang Muslim Syiah yang beralih menjadi Muslim Suni.
Dalam penyanderaan itu ia memaksa sejumlah sandera untuk memampang bendera yang mirip dengan yang digunakan ISIS, bendera wana hitam bertuliskan kalimat syahadat dalam aksara Arab. @sita
0 comments:
Post a Comment