LENSAINDONESIA.COM: Orang mengatakan sebuah foto menggambarkan ribuan kata. Sebuah gambar bisa menangkap esensi yang lebih kuat ketimbang tulisan maupun puisi. Foto itu simpel; tersaji tanpa ada rekayasa.
Sebuah tulisan bisa saja kehilangan esensinya saat ditranslasikan atau malah keluar dari konteks. Tapi tidak dengan foto, yang bisa menggugah dan membangkitkan emosi dalam diri kita.
Baca juga: Spesial perayaan ulang tahun Lensa Indonesia yang ke-5 dan Panglima TNI terima Dubes Korea
Psikolog menjelaskan sebuah gambar menyampaikan empat kunci dalam diri manusia yaitu ekspektasi, motivasi, emosi dan kultur. Foto dan gambar memproyeksikan apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
Contohnya jika ada sebuah foto seorang anak lelaki dengan seekor anjing, menimbulkan persepsi berbeda dari masing-masing orang yang melihatnya. Ada yang teringat tentang anjingnya yang hilang, atau pengalaman masa kecil tentang seekor anjing. Persepsi berbeda-beda ini didasarkan atas pengalaman yang pernah dialami. Subjektivitas akan menentukan emosi yang dirasakan ketika melihat sebuah foto atau gambar.
Maka, gambar tidak lagi sebuah benda yang tanpa arti. Foto bisa memicu reaksi emosional mengenai sebuah kenangan, baik atau buruk. Foto menjadi representasi dari hasrat terdalam maupun ketakutan paling besar yang kita ingin sembunyikan.
“Saya tidak pernah membaca. Saya cukup melihat pada foto yang ada,” kata seniman dan penulis Amerika Serikat, Andy Warhol, pernah berkata.
Kenapa tidak? Sebuah foto bisa menceritakan seluruh isi tulisan. Mengutip Gandhi, Anda punya dua mata da satu mulut. @sita
0 comments:
Post a Comment