Saturday, February 7, 2015

Nenek 58 tahun ini akan segera diesekusi mati oleh Indonesia

Nenek 58 tahun ini akan segera diesekusi mati oleh Indonesia




LENSAINDONESIA.COM: Terpidana mati asal Inggris Lindsay Sandiford (58) telah diberitahu bahwa ia masuk dalam daftar eksekusi mati bulan ini. Sipir LP Kerobokan Bali telah menyerahkan surat pemberitahuan eksekusi mati, pada Selasa lalu.


Sandiford ditangkap karena menyelundupkan kokain senilai 1,6 juta poundsterling ke Bali dari Thailand pada 2012 lalu. Ia menyatakan aksinya itu didorong karena ancaman dari sindikat narkoba yang mengancam akan membunuh anaknya. Salah satu anggota sindikat itu adalah Julian Ponder, yang pernah jadi kekasihnya.


Baca juga: Vokalis Napalm Death tulis surat ke Jokowi. Apa isinya? dan Jokowi: Dubes Indonesia harus jelaskan soal eksekusi mati


“Kecuali Anda mengajukan PK secepat mungkin, maka anda akan masuk dalam daftar untuk dieksekusi mati,” kata surat pemberitahuan tersebut mengutip dailymail, Minggu (8/2/2015).


Saat membaca surat pemberitahuan itu, Sandiford mengenakan pakaian biru dan bercelana pendek warna abu-abu. Di punggungnya, ditutupi kain bermotif warna putih. Rambutnya diikat ke atas dan mengenakan sandal warna biru. Ia didampingi seorang perempuan yang tampaknya menerjemahkan surat dalam bahasa Indonesia itu.


Sayangnya, ia tidak memiliki uang untuk membayar pengacara seharga 50 ribu poundsterling untuk memperjuangkan hidupnya. Pemerintah Inggris sendiri menolak untuk membiayai biaya persidangannya.


Ironisnya, Wakil Konsul Inggris Alys Harahap yang mendampingi Sandiford agar terbebas dari hukuman mati, malah selingkuh dengan Julian Ponder. Kemenlu Inggris mengonfirmasi bahwa penugasan Alys ditunda tapi menolak berkomentar hingga penyelidikan tuntas.


Menteri Luar Negeri Phillip Hammond mengatakan Inggris telah menolak membantu Sandiford dari segi finansial untuk persidangannya. Keluarga Sandiford yang terkejut dengan sikap pemerintah Inggris tengah mencoba mencari pengacara asal Indonesia untuk memperjuangkan nasib Sandiford.


“Saya butuh pengacara yang bagus saat ini, atau saya benar-benar dalam masalah,” tiru kerabat Sandiford.


Kabar bahwa ia akan menjalani eksekusi mati membuat suasana penjara terasa suram. “Tapi sipir penjara sangat baik pada saya, begitu juga para staf sangat peduli. Saya mendapatkan dukungan penuh dari semua orang termasuk gubernur.”


Menlu Phillip Hammond telah tiba di Jakarta pada Rabu untuk meneken kesepakatan dengan Lion Air sebesar 100 juta poundsterling untuk membeli mesin Rolls Royce. Namun, tidak membicarakan mengenai upaya pembebasan Sandiford dari hukuman mati.


Enam terpidana sudah dieksekusi mati pada Januari lalu. Sebelum akhir bulan ini, setidaknya 11 orang terpidana mati, termasuk dua gembong Bali Nine asal Australia juga masuk daftar dieksekusi mati oleh regu tembak. Eksekusi mati selanjutnya diperkirakan dilakukan pada Maret.


Saudara perempuan Sandiford, Hilary Parson berada di Australia untuk mencari pengacara. “Ini hal yang sangat-sangat sulit bagi keluarga. Ini sangat rumit. Tiap hari, kami mencoba mencari bantuan dan berharap tidak ada suatu yang buruk terjadi.”


“Saya berbicara pada warga Australia, apakah bisa menawarkan bantuan. Kami berharap bisa menemukan pengacara Indonesia yang kompeten untuk membantu Lindsay.”


Peninjauan kembali merupakan satu-satunya jalan legal untuk menunda eksekusi mati. Presiden Joko Widodo sendiri sudah menegaskan akan mengabaikan seluruh permintaan grasi padanya dan mempersilakan melakukan eksekusi mati. Ponder dipenjara selama enam tahun karena kepemilikan kokain, sedangkan tiga pelaku lainnya divonis antara satu hingga enam tahun. @sita


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment