LENSAINDONESIA.COM: Seorang pekerja domestik atau di Indonesia dikenal sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW), akan meninggalkan pekerjaannya dan mengejar mimpinya berkarir di New York.
Xyza Cruz Bacanni, perempuan 27 tahun itu telah dipilih sebagai salah satu dari tujuh penerima beasiswa oleh Magnum Foundation. Musim panas ini, ia akan menghabiskan enam pekan belajar di New York University’s Tisch School of the Arts.
Baca juga: Mantan majikan divonis bersalah, Erwiana bahagia dan Pengadilan Hongkong nyatakan majikan Erwiana bersalah
“Keluarga saya sangat bahagia ketika berita ini datang,” kata Bacani dalam emailnya.
Ia akan berhenti jadi babysitter. “Orang tua saya menangis. Mengetahui anaknya meraih mimpi adalah luar biasa bagi orang seperti kami yang tidak memiliki apapun,” ujarnya.
Bacani tumbuh dalam sebuah wilayah miskin di Nueva Vizcaya, Filipian. Ia meninggalkan sekolah di usia 19 tahun untuk jadi pekerja domestik di Hong Kong.
Bacani tak memiliki pendidikan formal apapun di bidang fotografi, tetapi karya foto hitam putihnya telah menumbuhkan imajinasi dan pujian lewat sosial media.
“Untuk dia, mendapatkan beasiswa ini secara literal bisa mengubah hidupnya, tidak hanya mengenai hobi fotografinya tetapi juga hidupnya. Dia mungkin akan meninggalkan statusnya sebagai pekerja domestik untuk selamanya, ” kata Sim Chi Yin, penerima Magnum Fellow 2010.
“Ia menjadi unik karena menceritakan komunitasnya, pekerja migran,” tambah Sim, yang merekomendasikan beasiswa bagi Bacani.
Proyek pertama Bacani adalah memotret kelompok perempuan di Bethune House Migrant Women’s Refuge, sebuah shelter untuk pekerja migran yang mengalami kekerasan.
Di shelter itu, batas antara Bacani dengan subjeknya melebur. Bacani sendiri adalah pekerja migran yang membantu temannya sesama perempuan, sekaligus menceritakan kisah pekerja migran lewat sebuah foto yang jujur.
Ketika ia memasukkan aplikasi untuk beasiswa ini, Bacani mendapat bantuan dari wanita yang ada di shelter untuk memilihkan foto-foto.
Bacani adalah satu dari 320 ribu pekerja asing di Hong Kong. Ia bekerja mulai dari 5.30 pagi dan menyiapkan sarapan bagi majikannya, membersihkan apartemen dan merawat enam cucu majikannya. Di satu hari libur, ia berada di jalanan Hong Kong dengan kamera di tangan, siap untuk memotret.
Ia mendadak sedih meninggalkan pekerjaannya sebagai pekerja domestik. “Pekerjaan saya adalah tempat yang baik. Di akhir bulan, saya merasa nyaman karena bisa mengirim uang ke ayah untuk pengobatannya atau membantu saudara,” ujarnya.
Tapi, ia percaya beasiswa Magnum bisa mendorongnya untuk melakukan yang terbaik. Ia akan dididik fotografer dokumenter Susan Meiselas dan bertemu para penerima beasiswa dari Ukraina, Haiti, Suriah, China, Afrika Selatan dan Palestina.
Setelah enam pekan di New York, ia berharpa bisa mendapatkan beasiswa lainnya yang membuat dirinya bisa lebih lama tinggal di kota tersebut. Ia mengejar mimpi jadi jurnalis foto. @sita/cnn
0 comments:
Post a Comment