Friday, March 27, 2015

Konferensi Perempuan Internasional gugat ide Barat soal Feminisme

Konferensi Perempuan Internasional gugat ide Barat soal Feminisme




LENSAINDONESIA.COM: Divisi Muslimah Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir akan menyelenggarakan Konferensi Perempuan Internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, Sabtu (28/3/15) di IPB International Convention Centre, Bogor, Jawa Barat. Tema konferensi, “Perempuan dan Syariah: Memisahkan Realita dari Fiksi”.


Agenda ini menurut Dr. Nazreen Nawaz, Direktur Divisi Muslimah pada Kantor Media Pusat Hizbut Tahriakan, akan

dilaksanakan di berbagai benua dan terdiri atas pertemuan para perempuan pembuat opini serentak di 5 negara: Palestina, Turki, Tunisia, Indonesia dan Inggris.


Baca juga: Teliti HIV-Hepatitis C Virus, Henny Saraswati dipromosikan Doktor UI dan Jadikan ibu rumahtangga bantu ekonomi suami lewat kuliner


“Konferensi ini berlangsung di ruang-ruang

elektronik yang akan disatukan melalui orasi langsung, disiarkan dari masing-masing tempat ke empat lokasi lain. Termasuk, pidato yang disampaikan dari Yordania,” jelasnya lewat surat elektronik kepada LICOM, Jumat (25/3/15).


Acara ini juga disiarkan langsung kepada masyarakat di seluruh dunia. Para peserta konferensi ini adalah jurnalis, politisi, akademisi, aktivis, dan pengacara perempuan, serta ulama Muslimah, tokoh masyarakat, dan perwakilan dari organisasi-organisasi perempuan.


Konferensi ini merupakan puncak dari kampanye global yang intensif selama enam minggu,yang mencakup kampanye media sosial yang aktif serta keterlibatan dengan media secara internasional dan diskusi-diskusi dengan perempuan di negara-negara di seluruh dunia.


Topik pembahasan di konferensi ini meliputi: Apakah Hukum Internasional atau Hukum Syariah yang Harus Menetapkan Hak-hak Perempuan di Dunia Muslim; Apakah Feminisme Islam adalah Jalan untuk Mengangkat Status Perempuan; Membongkar Mitos-mitos Media tentang Perempuan dan Syariah; Dasar dari Sistem Sosial Islam; Posisi Perempuan di dalam Hukum Syariah di bawah Khilafah; Peran Perempuan dalam Menciptakan Perubahan Politik yang benar.


Konferensi ini, dijelaskan Nazreen Nawaz, juga akan menyoroti dukungan yang terus meningkat di antara para Muslimah secara global kepada penerapan Syariah serta menampilkan perjuangan Muslimah Hizbut Tahrir dalam upaya menegakkan Khilafah.


Konferensi ini, kata dia, adalah agenda yang sangat tepat waktu mengingat perdebatan intens hari ini yang terus berlangsung di banyak negara Muslim, mengenai apakah hak-hak perempuan bisa mendapatkan jaminan terbaik di bawah sistem sekuler ataukah sistem Islam.


“Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi serangan tanpa henti dari para politisi sekuler, feminis,

dan berbagai sektor media liberal terhadap hukum-hukum sosial Islam, termasuk busana Muslimah, poligami, hukum

waris, pemisahan gender, serta hak-hak dan kewajiban pernikahan dalam Islam, yang telah dicap menindas, tidak

adil, dan diskriminatif terhadap perempuan,” papar Nazreen.


Hal ini, lanjut Nazreen, mengaruskan diskusi-diskusi di tengah banyak masyarakat, Timur dan Barat, tentang apakah hukum Syariah yang terkait dengan perempuan harus direformasi. Serangan-serangan tersebut telah didukung gunungan kebohongan yang diciptakan oleh kaum sekuler dari generasi ke generasi yang menuduh Syariah telah merendahkan,

memperbudak, dan menindas perempuan.


“Semua ini telah menciptakan banyak ketakutan akan seperti apa status perempuan di bawah kekuasaan Islam oleh

negara Khilafah di masa depan. Karena itu, konferensi ini bertujuan untuk membongkar kebohongan tentang penindasan perempuan di bawah Syariah, dan menyajikan visi yang jelas tentang posisi, hak, dan peran perempuan yang benar sebagaimana ditetapkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh Khilafah.”


Agenda ini, menurutnya, juga membantah tuduhan-tuduhan terhadap aturan-aturan Islam tertentu yang berkaitan dengan perempuan, serta menjelaskan dasar, nilai-nilai, dan hukum-hukum dalam Sistem Sosial Islam yang unik dan dampak positifnya terhadap perempuan, anak-anak, kehidupan keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.


Lebih jauh lagi, kata dia, setelah sidang tahunan Komisi PBB tentang Status Perempuan yang diselenggarakan pada bulan ini, dimana para pemimpin dunia bersumpah untuk memperkuat upaya-upaya mereka untuk menerapkan agenda kesetaraan gender untuk menandai ulang tahun ke-20 pencetusannya pada Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi tahun 1995.


“Konferensi kami akan menggugat gagasan bahwa ide-ide Barat tentang feminisme dan kesetaraan gender diklaim

akan mengangkat perempuan dari penindasan atau menjamin kehidupan yang baik bagi perempuan. Sebaliknya, konferensi ini akan menyoroti bagaimana hukum, sistem, dan institusi Khilafah yang berdasarkan metode kenabian lah yang menawarkan solusi untuk gunungan masalah yang dihadapi oleh perempuan di negeri-negeri Muslim saat ini.


Kami menyeru semua insan media yang memiliki hasrat yang tulus untuk menciptakan masa depan yang positif, aman,

dan bermartabat bagi perempuan untuk hadir dan meliput pertemuan penting ini. @licom_09


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment