LENSAINDONESIA.COM: Nama Bripda Nina Octoviana akhir-akhir ini tengah naik daun di dunia maya. Fotonya yang mengenakan seragam Wanteror Gegana Brimob Polda Aceh dan berhijab memancing komentar para netizen.
Senapan mesin jenis Steyr AUG ditentengnya. Di lengan baju, terdapat lambang korps Brimob. Begitulah penampilan salah satu anggota Brigade Mobil (Brimob) perempuan Polda Aceh saat bertugas.
Baca juga: Christy Walton, perempuan terkaya di dunia dan Kolinda Grabar-Kitarovic jadi presiden perempuan pertama Kroasia
Belakangan diketahui, ia adalah satu-satunya perempuan dalam satuan yang berjumlah 45 orang tersebut. Padahal, untuk bisa masuk dalam satuan ini harus memiliki fisik kuat dan mental teruji. Pasukan yang memiliki motto Cepat dan Tepat juga membutuhkan kedisiplinan, keberanian, kecermatan dan ketangguhan.
Yang menarik, dalam sehari-hari ia berhijab dan tidak melepas meski tengah berlatih atau bertugas. ”
“Tidak masalah dengan jilbab, tidak menghalangi tugas,” kata Bripda Nina Octoviana (22) beberapa waktu lalu.
Sejak bersekolah di SMK Negeri Penerbangan Nina memang memiliki bakat lebih ketimbang teman-temannya sesama perempuan. Ia lebih enerjik, disiplin dan kuat mengejar keinginan.
Kegiatan ekstrakurikuler seperti terjun dari dinding panjat jadi makanan sehari-hari. Hal ini menyita perhatian Danlanud Blang Bintang Aceh Besar, Letkol Supriyono 2013 lalu yang menyarankan Nina masuk ke Wanita Angkatan Udara (WARA).
Namun, ia memilih masuk ke sekolah Polwan di Ciputat 2013 lalu dan jadi pasukan Brimob. Ia memilih masuk ke Gegana yang memiliki kemampuan seperti antiteror, dan penjinakan bom.
Walaupun belum pernah terjun langsung ke lapangan, tapi Bripda Nina mengaku sangat bangga karena mendapat latihan yang terbilang menantang bagi dirinya seperti Perlawan Teror (Wanteror). Kemampuan itu hanya dimiliki pasukan Brimob.
“Ilmu Wanteror itu sangat menarik dan menantang bagi saya karena tidak didapat di polisi umum,” jelasnya.
Beruntung, orangtua Nina tak pernah melarang dan mendukung tugas anaknya yang terbilang menantang tersebut. Bripda Nina juga putri ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Ismail dan Mawarni ini berasal dari Kecamatan Samahani, Kabupaten Aceh Besar terlahir bukan dari keluarga besar polisi atau TNI. Tetapi ayahnya hanya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga
“Orangtua sih mendukung aja. Terserah pada saya, kalau saya nyaman dengan pekerjaan saya, orangtua mendukung,” ungkap Bripda Nina.
Dara asli Aceh kelahiran Samahani, 24 Oktober 1993 ini mulai bergabung dengan Polisi Wanita (Polwan) di Polda Aceh medio Januari 2014 dan ditempatkan di Polda Aceh. Kemudian pada bulan Juni 2014 juga Nina ditugaskan di Brimob Aceh.
Ia juga tidak canggung harus menenteng senjata jenis Steyr AUG. Foto itu tersebar di dunia maya. Kata Bripda Nina, foto itu diambil usai latihan gabungan bersama tim Raider TNI. Senjata Steyr AUG itu seperti dikutip AtjehPost, baru ia kenal setelah dirinya resmi menjadi Brimob.
Sebelumnya, pada saat pendidikan hanya latihan menggunakan senjata jenis revolver. Sebagaimana dikutip Wikipedia, Styer AUG adalah senjata buatan perusahaan Austria Steyr Mannlicher. AUG singkatan dari Armee Universal Gewehr atau Senapan Tentara Universal.
Nama ini sering digunakan untuk menyebut versi yang spesifik. Negara-negara yang menggunakan senjata ini adalah Austria, Australia, Timor Timur, Irlandia, Luxemburg, Malaysia, Oman, Pakistan, Filipina, Selandia Baru, Arab Saudi, Tunisia, Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia. Di Indonesia senjata ini dipakai oleh Satuan Polisi Khusus Indonesia yaitu Gegana Brimob Polri.
Di mata rekan setimnya, saat berlatih Bripda Nina kerap sulit dibedakan dengan personel lain yang berjenis kelamin laki-laki. Ia mampu mengimbangi fisik dan kemampuan laki-laki. “Kemampuannya sangat bagus, menembak, fisik, bahkan fisik kalah laki-laki,” kata Bripka Riki Putra A, Panit I Wanteror Sub Detasemen (Subden) I.
Dalam kesehariannya, Bripda Nina mengenakan hijab meski sedang latihan maupun bertugas.Hal ini tidak pernah dipermasalahkan oleh atasannya.
Kepala Detasemen (Kaden) Kompol Asnawi mengatakan tidak mempermasalahkan hijab yang dikenakan Bripda Nina. Ia mengamati, selama ini hijabnya tidak menghalangi tugasnya sebagai anggota Wanteror yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan.
Hal senada juga disampaikan oleh AKP Akmal, menurutnya ini menjadi nilai lebih di Aceh bahwa perempuan yang menjadi anggota Wanteror sekalipun bisa menggunakan hijab. “Inilah nilai lebih kita, karena menjadi pasukan Wanteror ini bukan mudah, butuh latihan dan fisik yang kuat,” tutupnya. @sita
0 comments:
Post a Comment