LENSAINDONESIA.COM: Kemarahan Amerika Serikat karena dikalahkan Rusia dalam proses perebutan pengaruh dan kekuasaan di Ukraina berbuntut pada keputusan mengeluarkan Rusia dari kelompok G-8.
Kelompok G-8 merupakan koalisi delapan negara termaju di dunia yakni Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat (G6, 1975), Kanada (G7, 1976) dan Rusia (tidak ikut dalam seluruh acara).
Baca juga: Sanksi ekonomi tak mempan, Amerika Serikat siapkan militer lawan Rusia dan Amerika Serikat Vs Rusia saling cekal pejabat terkait Ukraina
Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan para pemimpin dunia lainnya memutuskan mengakhiri peran Rusia dalam kelompok negara-negara industri terkemuka itu.
Pernyataan dari Gedung Putih itu merupakan respons terbaru dari negara-negara sekutu atas bergaubungnya Crimea pada Rusia. “Hukum internasional melarang akuisisi sebagian atau seluruh wilayah lain negara melalui paksaan atau kekerasan,” kata Gedung Putih.
Merespon hal itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengatakan, ditendang dari G-8 bukanlah masalah besar. “G-8 adalah organisasi informal yang tak memberikan kartu keanggotaan dan menurut definisi yang sama tak dapat menghapus siapa pun,” kata Lavrov.
“Semua pertanyaan ekonomi dan keuangan yang diputuskan dalam G-20, (adapun) tujuan pembentukan G-8 adalah menjadikannya sebagai forum dialog antara negara-negara Barat terkemuka dan Rusia,” lanjut Lavrof.
Lavrov pun menambahkan, Rusia tak melekat pada format tersebut. “Dan kami tak melihat ada sebuah kemalangan besar jika tak lagi ikut berkumpul di sana. Mungkin, selama satu atau dua tahun, (didepak dari G-8) itu akan menjadi cobaan bagi kami untuk melihat bagaimana kami hidup tanpa itu,” pungkasnya.@licom/kc
0 comments:
Post a Comment