LENSAINDONESIA.COM: Indonesia harus tetap memberikan subsidi kepada warga negaranya. Kebijakan itu harus dipertahankan demi kesejahteraan masyarakat dan langkah proteksi.
Hal ini disampaikan oleh Juru Kampanye Nasional Partai Hanura, Hary Tanoesoedibjo saat berorasi pada kampanye terbuka di Kota Surabaya, Selasa (25/03/14). Selain itu, pandangan negatif bahwa subsidi identik dengan ketidakmandirian harus diluruskan.
Baca juga: Hanura tegaskan fokus benahi infrastruktur dan Memajukan Indonesia, Hanura usung platform ekonomi mandiri
“Coba kita perhatikan negara maju di negara lain, pemerintahnya mampu memberikan berbagai program kepada rakyat, seperti subdisi pendidikan, kesehatan, dan subsidi perumahan. Bahkan di negara maju disediakan tunjangan hidup bagi pengangguran,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima LICOM.
Di Indonesia, lanjut bos MNC Group ini belum bisa dilakukan karena negara tidak memilik anggaran yang cukup. Bahkan, tambah Hary, jangankan menambah subdisi malah kata dia yang terjadi saat ini adalah sebaliknya, subdisi dikurangi sehingga hal ini semakin mempersulit kehidupan rakyat.
Pada APBN 2014 yang sebesar Rp1.842,5 triliun, besaran belanja subsidi sebesar Rp 333,7 triliun yang berarti turun Rp14,4 triliun dibandingkan pagu belanja subsidi dalam APBNP 2013 sebesar Rp 348,1 triliun.
Untuk sektor pangan yang vital, subsidinya sebesar Rp 18,82 triliun atau lebih rendah dibanding nilai subsidi tahun lalu yang sebesar Rp 21,49 triliun. Sedangkan subsidi benih sebesar Rp 1,56 triliun yang hampir sama dengan subsidi benih 2013 sebesar 1,45 triliun.
Sebaliknya, lanjut HT, negara lain terus menaikkan nilai subsidi. Tiongkok misalnya memberi subsidi untuk sektor pertaniannya hingga seribu miliar yuan termasuk diskon 30 persen untuk 175 jenis mesin pertanian.
Sementara di India, total subsidi pupuknya mencapai 12,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 121 triliun pada 2012-2013 dan naik menjadi 17,8 miliar dolar AS pada 2013-2014. Bandingkan dengan subsidi pupuk untuk petani kita yang hanya setara 2,1 miliar dolar AS.
“Keputusan tidak meningkatkan subsidi dan bahkan menguranginya bukanlah kebijakan yang berpihak pada petani. Menaikkan harga jual produk pertanian menjadi tidak berarti jika negara tidak mampu menjamin biaya produksi rendah,” tegas HT.
Senada, dalam waktu yang sama, pasangan capresnya yang juga Ketua Umum Hanura, Wiranto juga menegaskan, setiap kebijakan pemerintah harus memihak pada masyarakat. “Detail keputusan pemerintah wajib mempercepat pemerataan pembangunan. Agar keadilan dan kesejahteraan rakyat bisa segera terwujud dan dirasakan oleh semua lapisan,” ujarnya.
Selain itu, Wiranto juga mengingatkan agar masyarakat menggunakan hak pilihnya karena pemilu merupakan momentum memulai perubahan.
“Partai Hanura bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, untuk itu Pemilu ini adalah momentum yang tepat, kita tidak bisa menunggu lagi,” tegasnya.
Untuk diketahui, Kampanye di Surabaya ini merupakan ajang pertama kalinya bagi Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo hadir bersama. Pada kampanye-kampanye Hanura sebelumnya, keduanya berbagi jadwal kampanye agar dapat menemui massa lebih banyak.
Ribuan simpatisan partai dengan nomor urut 10 ini menyambut dengan antusias. Usai berorasi, WIN-HT kompak memberikan simulasi pencoblosan surat suara.
Kampanye terbuka di kota pahlawan Surabaya ini juga dihadiri oleh Ketua Dewan Penasehat Partai Hanura, Jenderal (Purn) Subagyo HS, Wakil Ketua Bapilu Partai Hanura, Arya Sinulingga. Sekretaris Bapilu Hanura, Ahmad Rofiq, ketua DPD Hanura Jawa Timur, Koeswanto, pengurus DPC Hanura se-Jawa Timur serta caleg Hanura untuk DPR RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Sementara itu, Ketua DPD Hanura Jawa Timur, Koeswanto menegaskan komitmen Hanura Jawa Timur untuk memenangkan Hanura. “Kami akan mengarahkan seluruh potensi yang kami miliki agar target ini bisa dicapai dan kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera,” jelasnya. @firdausi
0 comments:
Post a Comment