Monday, March 24, 2014

Harry Tanoe galau terbatasnya lapangan kerja potensi gejolak sosial

Harry Tanoe galau terbatasnya lapangan kerja potensi gejolak sosial




LENSAINDONESIA.COM: Besarnya populasi usia produktif di Indonesia berpotensi menimbulkan gejolak sosial

dan mengancam ekonomi Indonesia. Hal itu karena tidak diimbangi dengan kualitas pendidikan dan ketersediaan

lapangan pekerjaan.


Akibatnya, jumlah pengangguran bertambah dan angka kemiskinan meningkat. Salah satu solusinya, pengembangan pendidikan berbasis kreativitas agar melahirkan wirausahawan atau pengusaha-pengusaha muda yang bisa membuka lapangan kerja baru.


Baca juga: Hanura galau hasil Pemilu 2014 digugat inskonstitusional dan Hary Tanoesoedibjo himbau bentuk bank khusus UMKM


Hal inilah yang menjadi kegalauan dan perhatian Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura, Hary Tanoesoedibjo, yang juga Cawapres Hanura Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh dan saat keduanya menjadi pembicara dalam acara talkshow bertajuk “Kurikulum 2013 Implementasinya dalam Pendidikan Berbasis Karakter, Multitalent dan Entrepreneurship” di Surabaya.


“Bonus usia produktif sampai tahun 2035 ini harus diimbangi dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Kita membutuhkan entrepreneur minimal dua persen dari jumlah penduduk,” kata Hary Tanoe melalui pesan elektronik kepada LICOM, Senin (24/3/14).


Menurut Hary Tanoesoedibjo, hal ini penting karena entrepreneur akan menciptakan berbagai nilai tambah, seperti sektor pajak dan terbukanya lapangan pekerjaan.


Melimpahnya populasi usia produktif juga sering disebut sebagai bonus demografi. Fenomena ini terjadi ketika jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan jumlah penduduk muda (di bawah 15 tahun) dan lanjut usia (65 tahun ke atas) dan saat ini persentasenya mencapai 70:30.


Menurut bos MNC Group ini, penerapan kurikulum 2013 berbasis kreativitas merupakan langkah tepat dalam menghadapi bonus demografi tersebut. Kurikulum berbasis kreativitas akan menciptakan generasi muda yang kreatif dan inovatif, dua modal utama seorang entrepreneur.


“Indonesia membutuhkan kemandirian generasinya untuk bisa menjadi negara maju. Karena itu, kurikulum pendidikan berbasis kreativitas adalah langkah tepat, selain menuntaskan persoalan-persoalan lainnya di bidang pendidikan,” kata Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura ini.


Senada dengan Hary Tanoesoedibjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh yang mengungapkan Kemendikbud sudah mengubah kurikulum 2013 sehingga menekankan kreativitas sebagai instrumen penting pendidikan di Indonesia.


Hanya saja, tidak sedikit orang yang memprotesnya. Sebab, perubahan itu seakan membenarkan anggapan yang menyebutkan, ganti menteri ganti kurikulum.


“Namun, kami lebih memilih mengambil risiko membenahi kurikulum walaupun harus menahan berbagai kiritik tajam, dibandingkan mengorbankan masa depan puluhan juta anak-anak Indonesia,” ungkapnya.


Nuh yakin pendidikan berbasis kreativitas bisa mengatasi berbagai persoalan, termasuk kenakalan remaja semisal tawuran. Apalagi, di tengah kondisi Indonesia yang mengalami bonus demografi sebagai bentuk keberhasilan program KB, peningkatan kualitas pendidikan, dan suksesnya program pembangunan.


“Pendidikan kita harus mampu membekali generasi kita dengan kemampuan berfikir level atas, dan basisnya adalah kreatifitas,” tegas Nuh.


Selain Muhammad Nuh dan Hary Tanoe, talkshow yang dipandu Michael Tjandra ini dihadiri Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ahmad Jazidie, Rektor Institut Teknologi Surabaya Triyogi Yuwono, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Harun, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan, dan Ketua Yayasan Mimi School Ratna Endang Hartati. @firdausi


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment