Monday, March 24, 2014

Ibu harus hemat air, aktifitas di rumah ikut sebabkan krisis air

Ibu harus hemat air, aktifitas di rumah ikut sebabkan krisis air




LENSAINDONESIA.COM: Masih menyambut “Hari Air Dunia” yang diperingati tiap 23 April. Molto teman ibu dalam mencuci dan pelembut pakaian, mengajak para ibu dan masyarakat menghemat air. Ini didasarkan kegiatan mencuci pakaian merupakan pemakaian air terbesar kedua setelah mandi.


Untuk itu, Molto sebagai produk yang dekat ibu dan keluarga mengkampanyekan “Molto Save Our Water for the Next Generation”.


Baca juga: Kali Surabaya diruwat, cegah dikotori 'limbah racun' industri ngawur dan Pemprov kirim 300 ribu masker dan ribuan dus air mineral


Pauline Liongosari, Brand Manager Molto PT Unilever Indonesia Tbk, mengatakan, penggunaan air dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari merupakan salah satu faktor yang akan menyebabkan terjadinya krisis air bersih di Indonesia di tahun 2025.


Karena itu, diperlukan edukasi masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan air bersih menuju kelestarian air bersih bagi generasi mendatang.


Kegiatan “Molto Save Our Water for the Next Generation” bertepatan dengan peringatan “Hari Air Sedunia” dilakukan untuk bantu menyadarkan keluarga Indonesia atas pentingnya menghemat air terutama dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari.


“Kegiatan mencuci baju menghabiskan hingga 30% konsumsi air dalam rumah tangga secara keseluruhan. Dari jumlah tersebut, 30% digunakan untuk mencuci. Sedangkan 70% digunakan untuk pembilasan. Harus ada perubahan perilaku menghemat air sesegeranya demi menyelamatkan kehidupan generasi mendatang,” ujar Pauline kepada LICOM di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.


Firdaus Ali, Pendiri dan Ketua Indonesia Water Institute memamparkan pemakaian air rata-rata rumah tangga di perkotaan di Indonesia untuk golongan ekonomi menengah ke bawah adalah 169,11 liter/orang/hari, sedangkan untuk golongan ekonomi menengah ke atas adalah 247,36 liter/orang/hari untuk kegiatan sehari-hari seperti mencuci tangan, menggosok gigi, mandi, toilet, mencuci baju, mencuci piring, memasak, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan.


“Sebenarnya, sejak tahun 2000 telah terjadi kelangkaan air bersih di beberapa kawasan di Indonesia. Data memperlihatkan bahwa Pulau Jawa telah mengalami defisit air sebesar 2,809 miliar m3, Sulawesi 9,232 miliar m3, Bali 7,531 miliar m3 dan NTT 1,343 miliar m3,” ungkapnya.


Di Jakarta sendiri, kata Firdaus, sampai tahun 2013 cakupan layanan air bersih baru mampu menjangkau sekitar 38% dari total jumlah populasi sebabyak 10,1 juta jiwa. “Jika sepersepuluh dari warga Jakarta dapat mengubah perilakunya untuk menghemat air, maka dapat bantu memperlambat laju krisis air,” katanya. @ad.rudi_purwoko


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript

0 comments:

Post a Comment