LENSAINDONESIA.COM: Pencapresan Jokowi diusung PDI Perjuangan untuk belakangan bak madu, dan laris manis. Bukan cuma partai yang melirik, tapi juga Ormas. Di Jabar, diusulkan kawin dengan Jenderal TNI (purn) Luhut B Panjaitan. Kini, giliran suara dari Jawa Timur mengusulkan mantan Meneg Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa untuk mendampingi Capres “moncer” ini.
Usulan itu datang dari Koordinator Pemuda Penggerak Indonesia Hebat (PPIH) Jawa Timur. Ketuanya, Fairouz Huda Anggasuto menjamin bahwa Khofifah punya massa perempuan warga nadliyin cukup teruji. Pasalnya, dia mantan menteri era Presiden Gus Dur dan politisi perempuan tangguh.
Baca juga: You Tube ARB plesir bareng Zalianty, gosip kacaukan dominasi Jokowi dan Jokowi laris manis, Parpol mulai bergenit ria lamar PDIP
“Pendamping Pak Jokowi harus benar-benar bisa membantu memenangkan sejarah (suksesi) kepemimpinan nasional, kali ini,” kata Fairouz dalam keterangan persnya kepada Licom di Surabaya, Sabtu (22/3/14).
PPIH mengajukan nama Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Fairouz beralasan, tidak sekadar mengajukan nama. Karena Khofifah adalah tokoh nasional perempuan yang progresif dan konsisten dalam menjalankan amanah demokrasi.
“Kalau Ibu Khofifah dipilih menjadi pendamping Jokowi, maka ini akan menjadi kepemimpinan dwi tunggal yang tepat untuk menggerakkan Indonesia Hebat menyongsong masa depan,” tegasnya.
Selain itu, Fairouz mengklaim, kemunculan dwi tunggal Jokowi-Khofifah, akan mampu membuat animo politik rasional masyarakat yang lebih dahsyat.
Mantan Ketua Umum PMII Jatim ini menilai, duet Jokowi-Khofifah adalah duet yang sangat tepat. Setidaknya berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, pertimbangan ideologi. Secara ideologi perjuangan, Khofifah adalah pimpinan Muslimat NU yang konsisten menjaga NKRI dengan kesetiaannya terhadap Pancasila.
Sedangkan Jokowi, kata Fairouz, “Kader PDIP yang memiliki basis kekuatan ideologi perjuangan dan setia terhadap Pancasila dengan kekuatan nasionalisme kaum marhaen.”
Fairouz mempertegas, dalam sejarah tercatat bahwa pendiri NU KH M Hasyim Asyari di keluarga dan Soekarno, berikut keturunan dari dua tokoh ini, selalu senada dalam membangun Indonesia berdaulat.
“Soekarno dan Mbah Hasyim Asy’ari di era pra kemerdekaan, Soekarno dan KH Wahid Hasyim dalam mengisi kemerdekaan, Megawati Soekarnoputri dan Gus Dur dalam melawan kekuatan Orde Baru hingga dikenal dengan naga merah-naga hijaunya,” ungkapnya.
“Ini bukti bahwa kedua kekuatan besar ini adalah kekuatan sosial politik yang memilik komitmen besar terhadap Indonesia,” imbuhnya.
Kedua pertimbangan politik. Secara politik, munculnya Khofifah akan sangat menguntungkan bagi Jokowi dalam memenangi perhelatan Pemilihan Presiden 9 Juli mendatang. Sebab, sosok Khofifah bisa mewakili suara perempuan Indonesia.
“Perlu menjadi catatan bahwa perempuan adalah pemilih potensial yang bisa digerakkan dalam kontestasi politik 2014,” ujarnya. Ini dibuktikan dengan keterbatasan mesin politik, dia mampu mengimbangi pengaruh ketokohan elit politik Partai Demokrat Soekarwo di Pilgub Jatim.
Fairouz menyebut hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan International Foundation for Electoral System (IFES) pada Desember 2013. Menurut hasil survei dari dua lembaga survei itu bahwa tingkat partisipasi politik perempuan di pemilu 2014 diprediksi mencapai 91 persen, sedangkan laki-laki berada diurutan bawahnya yaitu 88 persen.
“Dengan segala potensi suara perempuan itu, maka menjadi salah satu alasan kuat bagi Jokowi untuk mempertimbangkan secara khusus nama Khofifah sebagai magnet politik perempuan Indonesia,” katanya penuh harap. @li
0 comments:
Post a Comment