LENSAINDONESIA.COM: Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Dwi Priyatno menyatakan, pihaknya tidak akan menarik senjata di jajarannya untuk seleksi ulang terkait kasus penembakan Kepala Detasemen Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Pamudji.
“Tidak menarik senjata, kan itu alatnya polisi. Untuk yang sudah pegang senjata, kita tingkatkan pengawasan, dan arahan-arahan yang lebih jelasnya,” tegas Kapolda Metro Jaya yang pada hari pelantikannya seolah “dikado” tragedi penembakan yang menewaskan Kadenma itu, menjawab pertanyaan wartawan saat datang di Gedung MPR RI, Senayan, Kamis (20/3/14).
Baca juga: Penembakan misterius merajalela, sebulan 10 orang korban dan IPW: Tawuran pelajar Jakarta 82 tewas, bajak bus kok dibiarkan?
Inspektur Jenderal Dwi Priyatno juga membantah tudingan ada permainan uang untuk mendapatkan izin penggunaan senjata api di jajaran polda Metro Jaya.
“Tidak ada itu. Kita ketat. Yang mengikuti tes lulus juga belum tentu dapat. Prioritas fungsi mana yang dikedepankan. Kan jumlah senjata kita terbatas. Sehingga, kita tidak bisa memberikan kepada semua anggota polisi,” tegas Dwi Priyatno.
Dia menjamin bahwa semua dilakukan secara transparan, bersih, dan akuntabel. “Kalau sampai ada permainan, Anda sampaikan kepada kita,” kata Dwi Priyatno.
Dwi Priyatno juga menegaskan, dalam pengawasan terhadap senjata, ada prosedurnya, selain mengajukan pangkatnya minimum Briptu, kemudian atasannya mengijinkan tidak boleh memegang senjata api.
Terkait pelaku penembakan Kadenma, Kapolda menjelaskan, proses hukumnya sedang berjalan dan segera diserahkan Kejaksaan untuk disidang. Selain itu, apakah pelakunya, Brigadir S (Susanto,red) akan diberhentikan dengan hormat, Kapolda mengatakan menunggu ada keputusan hukum inkrah.
“Ada kepatutan hukum inkrah, tentunya nanti akan ada sidang kode etik keputusan tersebut, apa yang bersangkutan layak dan tidaknya anggota polri,” kata Dwi Priyatno.
Sebelumnya, Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel menilai “abal-abal” terkait prosedur tes psikologi anggota Polri untuk kepemilikan senjata api di Polda Metro Jaya.
Reza yang Pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini, menyebut ada kebiasaan anggota Polda memberi upeti uang saat tes psikologi supaya lolos tes. Reza membeberkan dari hasil supervisi yang dilakukannya di lingkungan SDM Polda Metro Jaya. @endang
0 comments:
Post a Comment