LENSAINDONESIA.COM: Sejak kepemimpinan nasional beralih ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) 20 Oktober 2014 lalu, tercatat sudah tiga kali TNI AU melakukan ‘force-down’ (memaksa turun) pesawat asing yang melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin.
Pengamat Masalah Militer, Khairul Fahmi mengatakan, hal tersebut patut diapresiasi. Ini menunjukkan TNI khususnya Angkatan Udara sangat serius dalam upaya menjaga kedaulatan NKRI di udara.
Baca juga: TNI AU paksa turun pesawat Pangeran Kerajaan Arab Saudi dan Jet milik Arab nyusup wilayah Kalimantan berhasil diburu 2 Sukhoi-TNI
Hanya saja, kata dia, kejadian-kejadian beruntun ini tentu harus dapat dijelaskan dan dianalisa dengan sebaik-baiknya oleh para pimpinan TNI, sehingga bisa menjadi landasan bagi pemerintah dan parlemen untuk bersikap mengantisipasi maraknya pelintas ilegal itu.
Juga diharapkan, tindakan tegas TNI AU ini benar-benar dilakukan dalam rangka penegakan kedaulatan dan tidak berkaitan dengan suasana peralihan kepemimpinan nasional tadi.
“Mengapa demikian? Karena tidak dapat dipungkiri, jika tak dijelaskan dengan baik, bisa saja ada pihak-pihak yang menuding bahwa apa yang dilakukan oleh TNI AU ini hanya tindakan ‘over-acting, cari muka, narsis’ saja,” ujar Fahmi kepada lensaindonesia.com, Selasa (04/11/2014).
Fahmi mengatakan, saat ini, mulai berkembang pertanyaan di masyarakat, antara lain, mengapa ada sejumlah pesawat asing yang nekat melintas secara ilegal dalam rentang waktu yang cukup dekat? Ini apakah upaya ‘menjajal’ ketegasan pemerintahan jokowi ataukah memang sebenarnya selama ini cukup banyak pesawat asing yang dibiarkan bebas berkeliaran?
“Saya kira hal ini perlu penjelasan dan dukungan fakta yang akurat,” sindirnya.
Selain itu, lanjut Fahmi, ada juga pertanyaan, mengapa TNI AU sekarang begitu rajin menurunkan paksa pesawat asing? apakah karena memang sedang ‘musim’ ataukah ini ada kaitannya dengan bakal bergulirnya pergantian di jajaran pucuk pimpinan TNI?
“Banyak pihak yang memprediksi bahwa TNI AU berpeluang mengisi jabatan panglima TNI pasca Jenderal Moeldoko yang akan pensiun pada awal Juli 2015 mendatang,” kata alumnus Unair Surabaya.
“Namun apapun itu, tetap saja langkah tegas TNI AU dalam menjaga kewibawaan negara ini harus mendapat applaus dan penghargaan. Artinya, penguatan armada pesawat dan peralatan radar yang dibeli dengan menggunakan uang rakyat, mampu menghadirkan kekuatan pertahanan udara yang efektif dan disegani di kawasan Asia Pasifik,” pungkas Fahmi.
Diketahui, selama 2 pekan terakhir ini, TNI AU telah melakukan force down pesawat asing, diantaranya, pesawat BeechCarft warna putih milik asing dipaksa mendarat di Lanud AURI Mando, pada Rabu 22 Oktober 2014 sekitar pukul 11.30 Wita, Pendaratan paksa peswat Beechcraft 9L dengan nomor registrasi VH-PKF milik Singapura di Pontianak pada, Selasa 28 Oktober 2014 dan terakhir adalah force-down pesawat jet Gulfstream HZ-103 milik Pemerintah Arab Saudi yang dipaksa mendarat di Pangkalan TNI AU El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin 3 Nopember kemarin.@ridwan_LICOM
0 comments:
Post a Comment